HOT NEWS
Showing posts with label Konsorsium Wimax Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Konsorsium Wimax Indonesia. Show all posts
Anggota Konsorsium Wimax Indonesia Berkurang
Jumlah anggota Konsorsium Wimax Indonesia (KWI), yang merupakan kumpulan perusahaan Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) berkurang menjadi 22 perusahaan.
techno.okezone.com/.../anggota-konsorsium-wimax-indonesia-berkurang
Posted by
Mr.gucci
WiMax? Tunggu Pemerintah - Majalah Info Komputer Online
Harap-harap cemas soal implementasi WiMax di Indonesia agaknya masih akan terus berlanjut. Pasalnya seja ... WiMax bukan cuma untuk melayani pengguna internet ...
www.infokomputer.com/reguler/wimax-tunggu-pemerintah
Posted by
Mr.gucci
Jaringan WiMax untuk Indonesia
Jaringan WiMax untuk Indonesia koneksi internet & data. ... hendra-k is a new comer. Send a message via MSN to hendra-k Send a message via Yahoo to hendra-k ...
forum.detik.com/showthread.php?t=74
Posted by
Mr.gucci
Sgucci Said Tahun depan, Wimax 4G Mulai Beraksi di Indonesia
Share to Yahoo Mail: Import Your Yahoo contacts. Username: Password: .... Baca juga: Indonesia Gelar Wimax Dulu, Baru LTE ...
www.detikinet.com/.../pekan-depan-wimax-4g-mulai-beraksi-di-indonesia
Posted by
Mr.gucci
Berca Kuasai Zona BWA Terbanyak
Jakarta - Pemerintah telah menetapkan pemenang yang mengajukan posisi tawar tertinggi untuk 15 zona broadband wireless access (BWA) yang hari ini selesai dilelang. Dari 15 zona tersebut, tujuh zona di antaranya dimenangkan PT Berca Hardaya Perkasa.
Menkominfo Mohammad Nuh memaparkan demikian di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (16/7/2009). Berikut nama perusahaan di 15 zona dengan posisi tawar paling tinggi:
Zona 1, Sumatera Utara, posisi tertinggi ditawar PT First Media Tbk senilai Rp7.201.000.000. Zona 2, Sumatera Bagian Tengah, posisi tertinggi ditawar PT Berca Hardaya Perkasa sebesar Rp5.125.000.000
Zona 3, Sumatera Bagian Selatan, PT Berca, Rp5.125.000.000. Zona 4, Banten Jabodetabek, PT First Media, Rp 121.201.000.000. Sementara zona 5, Jawa Barat, Konsorsium PT Comtronic System dan PT Adiwarta Perdana, Rp25.218.000.000
Zona 6, Jawa Tengah, PT Telkom, Rp18.654.000.000, dan Zona 7, Jawa Timur, Konsorsium PT Comtronic System dan PT Adiwarta Perdana, Rp31.518.000.000. Sedangkan sona 8, Bali dan NTB, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp5.100.000.000
Zona 9, Papua, PT Telkom, 775.000.000. Zona 10, Maluku dan Maluku Utara, PT Telkom, Rp533.000.000. Zona 11, Sulawesi Selatan, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp5.299.000.000. Zona 12, Sulawesi Bagian Utara, PT Telkom, Rp1.177.000.000
Zona 13, Kalimantan Barat, PT Berca Hardaya Perkasa , Rp6.991.000.000. Kemudian zona 14, Kalimantan Bagian Timur, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp3.490.000.000. Terakhir zona 15, Kepulauan Riau, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp4.000.000.000.
Menkominfo Mohammad Nuh memaparkan demikian di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (16/7/2009). Berikut nama perusahaan di 15 zona dengan posisi tawar paling tinggi:
Zona 1, Sumatera Utara, posisi tertinggi ditawar PT First Media Tbk senilai Rp7.201.000.000. Zona 2, Sumatera Bagian Tengah, posisi tertinggi ditawar PT Berca Hardaya Perkasa sebesar Rp5.125.000.000
Zona 3, Sumatera Bagian Selatan, PT Berca, Rp5.125.000.000. Zona 4, Banten Jabodetabek, PT First Media, Rp 121.201.000.000. Sementara zona 5, Jawa Barat, Konsorsium PT Comtronic System dan PT Adiwarta Perdana, Rp25.218.000.000
Zona 6, Jawa Tengah, PT Telkom, Rp18.654.000.000, dan Zona 7, Jawa Timur, Konsorsium PT Comtronic System dan PT Adiwarta Perdana, Rp31.518.000.000. Sedangkan sona 8, Bali dan NTB, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp5.100.000.000
Zona 9, Papua, PT Telkom, 775.000.000. Zona 10, Maluku dan Maluku Utara, PT Telkom, Rp533.000.000. Zona 11, Sulawesi Selatan, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp5.299.000.000. Zona 12, Sulawesi Bagian Utara, PT Telkom, Rp1.177.000.000
Zona 13, Kalimantan Barat, PT Berca Hardaya Perkasa , Rp6.991.000.000. Kemudian zona 14, Kalimantan Bagian Timur, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp3.490.000.000. Terakhir zona 15, Kepulauan Riau, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp4.000.000.000.
Posted by
Mr.gucci
Menkominfo Tanggung Jawab Jika BWA Gagal
Jakarta - Menkominfo Mohammad Nuh berjanji akan tanggung jawab jika pemenang tender broadband wireless access (BWA) gagal memberikan layanan internet yang berkualitas bagi masyarakat.
Pekan lalu, pemerintah telah mengumumkan pemenang tender BWA yang diperkirakan akan menyumbang pendapatan negara sejumlah Rp 877,28 miliar dari pemenang guna mendapatkan lisensi.
Para pemenang lisensi di pita lebar 2,3 GHz tersebut adalah PT. Telkom, PT Power Telecom, PT Jasnikom Gemanusa, PT Indosat, PT Internet Madju Abad Milenindo, PT Indosat Mega Media, PT Sejahtera Globalindo, PT Internux, dan PT Centrin Online.
Selanjutnya, PT Global Komunika Dewata, PT First Media, PT Bakrie Telecom, PT Jasnita Telekomindo, PT MSH Niaga Telecom Indonesia, PT Berca Hardayaperkasa, Konsorsium Moratelindo Teleglobal, dan PT Rahajasa Media Internet (a/n. Konsorsium Wimax Indonesia).
Sebagian dari perusahaan itu bisa dibilang muka baru yang belum punya pengalaman di bidang telekomunikasi. Jangankan pengalaman, kepemilikan infrastrukturnya saja diragukan banyak kalangan. Hal ini dinilai bisa menghambat penggelaran jaringan sesuai target kepada masyarakat.
Namun sekali lagi, Nuh tetap percaya, para pendatang baru itu, meski belum punya infrastruktur memadai, tetap bisa berkompetisi dengan operator yang sudah lebih dulu berkiprah di industri telekomunikasi.
"Siapapun yang punya tekad dan komitmen dalam bentuk jaminan uang lisensi, maka harus tetap kita beri kesempatan. Siapa pun itu. Jika kita hanya berikan lisensi kepada pemain lama, itu tidak fair. Selama proses mendapatkan lisensinya fair kita akan dukung agar tumbuh kompetisi baru. Harapannya bisa beri services lebih baik lagi," papar Nuh.
Mengenai isu pemilik perusahaan pemenang tender yang diklaim punya kedekatan dengan orang nomor satu dan dua di negara ini, menteri juga menegaskan hal itu tidak benar. Menurutnya, para pemenang dipilih karena memenuhi syarat, bukan karena kedekatan dengan penguasa.
"Kita tidak memasukkan faktor kedekatan, yang penting penuhi syarat. Siapapun yang bisa memberi harga paling tinggi akan kita beri kesempatan. Bukan karena kedekatan atau kejauhan. Dan ini, Insya Allah bisa kita pertanggungjawabkan," pungkasnya.
Meski pemenang tender BWA telah diketahui, namun pemerintah belum bisa menetapkan secara resmi karena masih dalam tahap masa sanggah. Jika tak ada perusahaan yang menyanggah putusan tersebut, Nuh akan menandatangani putusan pemenang pada minggu depan.
Setelah itu, para pemenang akan diberikan izin prinsip. Namun untuk bisa menggelar secara komersial, para pemenang harus lebih dulu dinyatakan lulus uji laik operasi.
Adapun lisensi yang dikantungi pemenang tender, akan dievaluasi setiap tahunnya berdasarkan pembangunan jaringan. Untuk zona Banten dan Jabotabek, misalnya, pada tahun pertama jaringan harus dibangun 20% dari area yang akan dilayani, tahun kedua 30%, tahun ketiga 45%, tahun keempat 60%, tahun kelima 80%, dan tahun keenam 100%.
Pekan lalu, pemerintah telah mengumumkan pemenang tender BWA yang diperkirakan akan menyumbang pendapatan negara sejumlah Rp 877,28 miliar dari pemenang guna mendapatkan lisensi.
Para pemenang lisensi di pita lebar 2,3 GHz tersebut adalah PT. Telkom, PT Power Telecom, PT Jasnikom Gemanusa, PT Indosat, PT Internet Madju Abad Milenindo, PT Indosat Mega Media, PT Sejahtera Globalindo, PT Internux, dan PT Centrin Online.
Selanjutnya, PT Global Komunika Dewata, PT First Media, PT Bakrie Telecom, PT Jasnita Telekomindo, PT MSH Niaga Telecom Indonesia, PT Berca Hardayaperkasa, Konsorsium Moratelindo Teleglobal, dan PT Rahajasa Media Internet (a/n. Konsorsium Wimax Indonesia).
Sebagian dari perusahaan itu bisa dibilang muka baru yang belum punya pengalaman di bidang telekomunikasi. Jangankan pengalaman, kepemilikan infrastrukturnya saja diragukan banyak kalangan. Hal ini dinilai bisa menghambat penggelaran jaringan sesuai target kepada masyarakat.
Namun sekali lagi, Nuh tetap percaya, para pendatang baru itu, meski belum punya infrastruktur memadai, tetap bisa berkompetisi dengan operator yang sudah lebih dulu berkiprah di industri telekomunikasi.
"Siapapun yang punya tekad dan komitmen dalam bentuk jaminan uang lisensi, maka harus tetap kita beri kesempatan. Siapa pun itu. Jika kita hanya berikan lisensi kepada pemain lama, itu tidak fair. Selama proses mendapatkan lisensinya fair kita akan dukung agar tumbuh kompetisi baru. Harapannya bisa beri services lebih baik lagi," papar Nuh.
Mengenai isu pemilik perusahaan pemenang tender yang diklaim punya kedekatan dengan orang nomor satu dan dua di negara ini, menteri juga menegaskan hal itu tidak benar. Menurutnya, para pemenang dipilih karena memenuhi syarat, bukan karena kedekatan dengan penguasa.
"Kita tidak memasukkan faktor kedekatan, yang penting penuhi syarat. Siapapun yang bisa memberi harga paling tinggi akan kita beri kesempatan. Bukan karena kedekatan atau kejauhan. Dan ini, Insya Allah bisa kita pertanggungjawabkan," pungkasnya.
Meski pemenang tender BWA telah diketahui, namun pemerintah belum bisa menetapkan secara resmi karena masih dalam tahap masa sanggah. Jika tak ada perusahaan yang menyanggah putusan tersebut, Nuh akan menandatangani putusan pemenang pada minggu depan.
Setelah itu, para pemenang akan diberikan izin prinsip. Namun untuk bisa menggelar secara komersial, para pemenang harus lebih dulu dinyatakan lulus uji laik operasi.
Adapun lisensi yang dikantungi pemenang tender, akan dievaluasi setiap tahunnya berdasarkan pembangunan jaringan. Untuk zona Banten dan Jabotabek, misalnya, pada tahun pertama jaringan harus dibangun 20% dari area yang akan dilayani, tahun kedua 30%, tahun ketiga 45%, tahun keempat 60%, tahun kelima 80%, dan tahun keenam 100%.
Posted by
Mr.gucci
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)