Blog Planet Wifi Router is designed as a study material for menperdalam about WI-MAX technology, Wifi, Wireless Internet. May be an asset to our progress sgucci: operator wimax

Sarana dan Prasarana tempat tongkrongan kedai kopi sambil belajar Dasar-dasar WIFI, Hotspot, dan dunia internet

HOT NEWS

Showing posts with label operator wimax. Show all posts
Showing posts with label operator wimax. Show all posts

New Produk From Sitra Wimax

Kini, teknologi Wimax telah hadir dan siap dioperasikan pertama kali di Indonesia. PT. First Media TBK menghadirkan produk terbarunya Sitra Wimax sebagai operator Indonesia pertama yang menyelenggarakan layanan koneksi jaringan internet nirkabel berkecepatan tinggi dengan basis teknologi Wimax. Meluncurkan pengoperasiannya pertama kali untuk kalangan internal di kawasan barat Jakarta secara bertahap pada Juni 2010, Sitra Wimax siap menjadi pelopor penyelenggara layanan koneksi internet nirkabel super cepat dengan kualitas terbaik.

Sitra adalah merk dagang First Media yang menghadirkan teknologi Wimax pertama di Indonesia, layanan broadband internet nirkabel generasi keempat (4G) dengan teknologi Wimax. Ini merupakan tindak lanjut First Media TK setelah memenangkan tender penyelenggaraan jaringan tetap lokal berbasis packet switched yang menggunakan pita frekuensi radio 2,3 GHz untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel. First Media berhak menyelenggarakan jaringan tetap lokal di zona 1 yakni Aceh dan Sumatera bagian utara dan zona 4 yang mencakup Jabodetabek.

Malaysia Tertarik Wimax Indonesia

Malaysia dikabarkan tertarik untuk menggunakan perangkat Wimax besutan anak Indonesia. Bahkan, minat untuk membeli perangkat jaringan nirkabel pita lebar itu pun telah disampaikan. Demikian diungkap Direktur Utama PT Solusindo Kreasi Pratama, Sakti Wahyu Trenggono. Ia mengaku, salah satu unit bisnisnya yang mengembangkan perangkat Wimax telah ditawari kerjasama oleh vendor telekomunikasi asal Malaysia, yakni Mercury Infocast. Read more...

Wimax Akan diluncurkan Bertepatan Momentum 100 Tahun Harkitnas


Jakarta, (APTEL) - Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional kali ini akan diperingati agak berbeda dengan peringatan Harkitnas sebelumnya. Hal itu nampak dari berbagai kegiatan yang akan dilakukan Panitia Nasional yang di ketuai Menkominfo Mohammad Nuh. Peluncuran Wimax (Worldwide Interoperability for Microwave Access) versi Indonesia pada tahun 2008 diharapkan menjadi salah satu momentum 100 tahun kebangkitan nasional 28 Mei 2008. Hal itu dikatakan Menkominfo dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi I DPR RI di gedung parlemen di Jakarta, beberapa waktu lalu.


"Kita akan meluncurkan Wimax versi Indonesia pada 28 Mei 2008 nanti. Ini sebagai kebanggaan nasional di bidang teknologi," kata Menkominfo.

Namun demikian peluncuran Wimax itu tidak serta merta bisa segera dilakukan, sebab memerlukan pengkajian yang dan penelitian mendalam untuk bisa diimplementasikan dan sekarang ini proyek Wimax versi Indonesia sedang dalam tahap penelitian yang dilakukan Depkominfo bersama dengan BPPT, Ristek dan LIPI.

"Sekarang sudah riset. Kita punya hasil riset berupa bagian-bagian Wimax yang masih terpisah, masih dalam bentuk belum utuh. Kita mempunyai tugas untuk menggabungkan ini semua dengan orientasi hasil akhir produk," katanya. Proyek ini akan menggabungkan berbagai hasil riset tentang Wimax menjadi satu bagian dan hasilnya akhir berupa produk Wimax versi Indonesia” tandasnya.
Wimax adalah salah satu teknologi yang memudahkan masyarakat mendapatkan koneksi Internet berkualitas, untuk melakukan aktivitas dengan teknologi nirkabel telekomunikasi berbasis protokol internet.

***

Sementara itu di tempat berbeda Menkominfo juga mengatakan bahwa, pemerintah siap menggenjot penetrasi internet broadband di Indonesia dengan upaya menggelar program hotspot gratis di seluruh nusantara sebagai salah satu upaya meningkatkan pendapatan per kapita negara.
"Bulan depan kami akan memulai program hotspot gratis ini dengan menggandeng sejumlah penyedia layanan internet," ujarnya di sela acara Indonesia Broadband Summit, di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, dengan tingginya penetrasi internet akan menimbulkan multiplier effect terhadap industri, khususnya di sektor riil. Namun, lanjutnya, efek domino terhadap growth domestic product (GDP) negara akan sangat tergantung pada konten dan aplikasi.

"Jadi, selama konten dan aplikasi belum tumbuh dengan baik, saya kira efeknya kecil," Jelasnya. "Karena itu harus paralel. Dengan mendorong internet broadband, industri aplikasi harus didorong juga," ia menambahkan. Oleh sebab itu, pemerintah akan mendorong melalui pemberian insentif bagi industri lokal. "Misalnya, dengan mempermudah akses ke permodalan dan membantu dalam bentuk promosi." Jelasnya.

***


Sebagaian masyarakat menyambut baik jika ada hot spot gratis. Sejauh ini telah banyak kantor pemerintah yang menerapkan jaringan nirkabel dan internet melalui hotspot.Selain untuk membuat akses jaringan internal didalam kantor,hotspot yang sudah tersambung dengan internet tersebut juga "diberikan' kepada masyarakat. Biasanya layanan hotspot ini bisa diakses disekitar gedung pemerintahan atau taman kota dan manfaatnya masyarakat bisa mengakses internet secara gratis.




Beberapa pemerintah daerah yang sudah membuat layanan hotspot ini antara lain : Kabupaten Sumenep, Kabupaten Kebumen, Kabupaten garut, Kota Surabaya, Kota Tarakan, Kabupaten Bantul, Kabupaten Aceh Singkil dan masih banyak lagi.Jaringan nirkabel adalah masa depan ( wireless network is future ). Mengingat manfaatnya jauh lebih besar, sudah selayaknya kalangan pemerintah di Indonesia mempertimbangkan jaringan nirkabel".




Jika semua Pemda di Indonesia menerapkan hal ini dampaknya akan luar biasa, Gedung pemerintahan dan taman kota akan dipenuhi oleh orang-orang yang nginternet, pagi, sore bahkan hingga malam. Selain sebagai tempat rekreasi, refreshing, bisa juga untuk proses belajar berbagai ilmu pengetahuan guna meningkatkan wawasan melalui fasilitas nirkabel hotspot yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas SDM Indonesia. (Sumber ;Aptel)

operator telekomukasi wimax

"Perusahaan penyedia perangkat Wimax yang ikut ujicoba makin banyak. Namun, kami memiliki penilaian akhir sampai benar-benar Wimax tersebut bisa digelar," ujarnya. Menurut Basuki, bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akan melakukan kajian terhadap frekuensi Wimax dengan batas waktu ujicoba selama tiga hingga enam bulan.
Beberapa perusahaan yang sudah melakukan ujicoba layanan Wimax adalah Indonesian Tower, selain itu, perusahaan produsen perangkat Wimax dari India, Ordyn Tecnologies Pte Ltd juga telah berencana membangun pabrik chipset di Indonesia. Sementara perusahaan yang berminat untuk ikut tender, lanjut Basuki, di antaranya adalah operator telekomunikasi yang menyelenggarakan jaringan tetap dan tertutup. Operator telekomunikasi besar yang berminat menjadi penyelenggara Wimax, antara lain PT Telkom, PT Indosat, dan PT Excelcomindo Pratama (XL), yang dalam pelaksanaannya lisensi Wimax akan dibagi berdasarkan wilayah regional, bukan nasional.
Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika, Muhammad Nuh mengharapkan peluncuran Wimax dapat mendorong konektivitas jaringan semakin baik sehingga siap bila digunakan untuk program komputer murah bagi pendidikan.

cara install wimax

Airspan Makes Home Routers for WiMax
Setelah minggu lalu Wireless LAN Event diadakan di London Inggris, Airspan Networks telah mulai mengembangkan prototipe dari router basis WiMax dirancang untuk digunakan di rumah. After last week's Wireless LAN Event held in London UK, Airspan Networks has begun to develop prototypes of WiMax base routers designed for home use. KAN acara di London, Airspan demo's nya "* EasyST" * WiMAX base station, yang melengkapi perangkat Prost kolam renang dan juga sebagai backhaul WiMAX HiperMAX lini produk. At London KAN event, Airspan demo's its “*EasyST”* WiMAX base station, which complements its outdoor ProST device as well as its HiperMAX WiMAX backhaul line of products.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pertarungan Airspan Anda dapat mengunjungi halaman rumah mereka di sini http://www.airspan.com/products_sub_steasy.htm To find out more about a bout Airspan you can visit their home page here http://www.airspan.com/products_sub_steasy.htm
Yang termudah, yang sedang dirancang dalam tiga versi yang berbeda, dapat diinstal dengan hanya tentang siapa pun. The Easiest, which is being designed in three different versions, can be installed by just about anyone. Salah satu fitur versi tongkat-on-the-jendela antena eksternal, yang dirancang untuk membuat WiMAX dapat diakses oleh pemilik rumah di mana-mana. One version features a stick-on-the-window external antenna, designed to make WiMax accessible to home owners everywhere.

Test technology wimax

Teknologi WiMax atau Worldwide Interoperability for Microwave Access seperti dikutip dari situs BPPT adalah generasi keempat telekomunikasi (4G) yaitu teknologi nirkabel pita lebar berbasis protokol internet berkecepatan tinggi yang memungkinkan transfer data hingga 80 Megabite per detik (Mbps), jauh lebih cepat dari layanan internet berbasis layanan seluler generasi ke tiga (3G) yang hanya sekitar 2,4 Mbps. Wimax juga memungkinkan jangkauan telepon dan internet yang lebih luas, dan tidak seperti Wi-fi yang menawarkan kemampuan untuk menyambungkan koneksi tanpa kabel ke berbagai lokasi di kota-kota, Wimax mampu memberikan sambungan untuk para penggunanya dimanapun mereka berada.
Aksi Demonstrasi berikutnya adalah kemampuan WiMax melakukan Teknologi Multicast. Dengan menerapkan teknologi ini sang pengguna tetap menggunakan kapasitas bandwith yang tetap meski membuka sejumlah situs aplikasi video disaat yang sama.

“Inilah,”kata Pak Onno,”yang membedakan WiMax dengan koneksi internet konvensional. Kanal yang dipakai adalah IP Address pengguna, jadi sebanyak apapun sang pemakai membuka akses internet, kapasitas bandwithnya tetap sama. Ini sebuah lompatan teknologi yang luar biasa”

Demonstrasi keunggulan WiMax berikutnya adalah kemampuannya melakukan video Call lewat VOIP serta menghubungi telepon konvensional lewat telepon berbasis WiMax.Yang menarik pada salah satu handphone yang dipinjam Pak Onno, terdapat indikator “4 G”. Dengan suara bergetar, Pak Onno berkata,”Lihatlah, di ruangan kita sekarang, sebuah era baru teknologi komunikasi telah tiba, era 4 G!”. Seketika aula Graha Widya Bhakti Puspitek bergemuruh oleh tepuk tangan hadirin.

Pak Onno lalu menyajikan presentasi soal konfigurasi WiMax, yang terus terang membuat saya bingung dengan terminlogi yang tidak saya kenal. Namun yang menarik adalah, kelak dengan menggunakan teknologi WiMax, kita bisa membuat sentra telepon sendiri berbasis VOIP dan menginstall sendiri softwarenya yang open source secara gratis.

About WiMAX Roaming

What is WiMAX Roaming?
The WiMAX Roaming White Paper provides an overview of business models and technical aspects of roaming. Roaming enables customers to automatically access their wireless services when travelling outside the geographical coverage area of their home network. This includes internet, e-mail, voice, video and other services available on the home network. Roaming provides the ability for you to access your wireless services by using the network of an operator that is not your home network operator. This is made possible by your home network operator agreeing with other operators to allow you to use your wireless services on their networks.

Benefits of WiMAX Roaming
Roaming provides significant advantages to customers and network operators. Roaming can dramatically expand the coverage area available to customers and can enable an operator to expand its footprint.

Types of Roaming
Roaming can either be national or international. National Roaming occurs when the visited network is in the same country as the home network. International or Global Roaming occurs when the visited network is in a different country than the home network. Roaming can also occur between networks using differing technologies, such as WiMAX and Wi-Fi or WiMAX and 3G. This is known as Inter-standard roaming.

Connecting Operator Networks for Roaming For roaming to occur, the networks of two operators must be connected to provide access to services and to enable the process of sharing usage information and to facilitate billing and financial settlement between operators. This can be achieved by operators establishing direct connections between their networks or by connecting their networks through a third party roaming exchange provider (WRX). One advantage of connecting through a third party provider is that this can enable an operator to connect with many other operators through a single connection. This can allow an operator to expand its footprint quickly.

Roaming Agreements
Roaming agreements set forth the terms and conditions by which operators agree to provide each other’s subscribers with access to their networks. An agreement details which services are to be provided and the rates that the operators will pay for using the other’s network. The agreement also includes information relating to QoS, customer care and billing and financial settlement.

Wimax vs 3G

Bro, Wimax itu udah merupakan technology wireless paling maju sekarang ini, dengan menggunakan standar 802.16. Wimax bisa digunakan untuk transmisi data sampai dengan 75Mbps sampai dengan jarak 15km.

Otomatis jika dilihat dari kemampuannya, Wimax bisa jadi 3G / HSDPA killer dimana untuk sisi operator WImax akan lebih murah investasinya dibanding 3G dan untuk sisi pelanggan, akses akan lebih cepat.

Masalahnya, 3G/HSDPA bisa diakses via telepon selular , nah untuk wimax, sampai saat ini belum ada hp selular yg mendukung WImax mengingat wimax memiliki range frekuensi operasi yang berbeda dengan GSM/UMTS yaitu di 2.3 , 3.3 , 3.5 Ghz ke atas. So engga ada hp yg menggunakan frekuensi tsb.

Kehadiran jaringan WiMax (worldwide interoperability for microwave access) diperkirakan belum mendorong Internet murah, karena operator harus memperhitungkan mahalnya lisensi yang mereka bayar.

Mas Wigrantoro Roes Setiadi, Ketua Masyarakat Telematika Indonesia ( Mastel), mengingatkan perolehan lisensi WiMax dengan biaya yang mahal tidak akan membuat Internet menjadi murah.

Penyelenggara jasa Internet (PJI) yang bermodal terbatas, katanya, mau tidak mau harus menyewa jaringan WiMax ke pemilik lisensi jika ini menggunakan jaringan WiMax untuk askes Internet.

"Tentunya, pemilik jaringan WiMax akan menetapkan biaya sewa yang mahal untuk menutup biaya lisensi tersebut," ujarnya kepada Bisnis pekan lalu.

Dia menilai peluang para PJI bermodal kecil untuk mengikuti lelang WiMax sangat berat, karena mereka dituntut memiliki struktur permodalan yang kuat.

"Ini memang keinginan pemerintah yang meminta agar PJI yang sumber dayanya terbatas mengalah dulu dan bisa bekerja sama memakai jaringan pemenang tender," tuturnya.

Wigrantoro menilai kinerja pemegang lisensi WiMax kurang optimal bila pemerintah tidak memberikan alokasi nomor yang memungkinkan panggilan untuk pelanggan.

"Jika pemerintah mengubah regulasi penomoran, peta telekomunikasi akan berubah dan ini positif bagi operator WiMax," jelasnya.

Menurut dia, siapa pun pemenang lisensi dari 23 peserta yang maju prakualifikasi tender WiMax 2,3 GHz, mereka harus serius menggarap jaringan dan layanan.

Sebelumnya, praktisi broadband wireless access (BWA) IM2 Hermanudin berpendapat harga dasar tender yang sangat tinggi dan bisa berkali lipat apabila lelang sudah digelar menyebabkan penyelenggara WiMax juga harus membangun backbone antarkota, backhaul dalam kota, dan menara yang investasinya cukup besar.

"Penyelenggara WiMax juga wajib memenuhi komitmen pembangunan jaringan hingga ke ibu kota kecamatan di wilayah zona yang dimenanginya," ujarnya.

Menurut dia, jika permodalan peserta kecil, Internet murah akan sulit direalisasikan bahkan dikhawatirkan pemain malah menjadi broker frekuensi.

23 Peserta tender

Sebanyak 23 perusahaan termasuk konsorsium mengajukan penawaran harga pada lelang pita spektrum frekuensi radio 2,3 GHz untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel WiMax.

Gatot S. Dewa Broto, Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo, menuturkan penurunan calon peserta tersebut lazim seperti pada proses seleksi tender telekomunikasi lainnya. "Sejauh ini, kami memang tidak menentukan target dan kami kira tender ini cukup ketat," ujarnya kepada Bisnis.

Menurut Gatot, 3G, berkurangnya peserta karena di antara calon peserta saling mengikatkan entitas keikutsertaannya dalam bentuk konsorsium seperti ditegaskan dalam penjelasan tender.

Setiap anggota konsorsium WiMax harus merupakan penyelenggara jaringan telekomunikasi dan atau penyelenggara jasa telekomunikasi yang sudah mendapatkan izin penyelenggaraan yang dimungkinkan sesuai dengan Keputusan Menkominfo No.114/2009.

Iwan Krisnadi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonedia (BRTI), berpendapat jumlah peserta menyusut, karena banyak perusahaan yang bergabung menjadi konsorsium. Ada tiga konsorsium yang mengembalikan dokumen seleksi.

"Besaran bid bond yang diajukan para calon peserta sendiri belum diketahui karena dokumen baru di buka Senin [hari ini]," ujarnya kepada Bisnis, pekan lalu.

Sampai Jumat pekan lalu, ke-23 calon yang terdiri dari 5 konsorsium dan 18 perusahaan lainnya telah menyerahkan kelengkapan dokumen persyaratan yang akan dibuka pada 22 Juni 2009 di Ditjen Postel.

Sebelumnya pemerintah menetapkan harga dasar penawaran (reserved price) pita spektrum frekuensi radio 2,3 GHz untuk lebar pita 15 MHz WiMax bervariasi sesuai dengan zona yang menjadi objek seleksi. Total harga dasar penawaran WiMax untuk 15 zona mencapai Rp52,35 miliar atau hanya sepertiga dari harga dasar penawaran tambahan frekuensi 3G.

Menkominfo Tanggung Jawab Jika BWA Gagal

Jakarta - Menkominfo Mohammad Nuh berjanji akan tanggung jawab jika pemenang tender broadband wireless access (BWA) gagal memberikan layanan internet yang berkualitas bagi masyarakat.

Pekan lalu, pemerintah telah mengumumkan pemenang tender BWA yang diperkirakan akan menyumbang pendapatan negara sejumlah Rp 877,28 miliar dari pemenang guna mendapatkan lisensi.

Para pemenang lisensi di pita lebar 2,3 GHz tersebut adalah PT. Telkom, PT Power Telecom, PT Jasnikom Gemanusa, PT Indosat, PT Internet Madju Abad Milenindo, PT Indosat Mega Media, PT Sejahtera Globalindo, PT Internux, dan PT Centrin Online.

Selanjutnya, PT Global Komunika Dewata, PT First Media, PT Bakrie Telecom, PT Jasnita Telekomindo, PT MSH Niaga Telecom Indonesia, PT Berca Hardayaperkasa, Konsorsium Moratelindo Teleglobal, dan PT Rahajasa Media Internet (a/n. Konsorsium Wimax Indonesia).

Sebagian dari perusahaan itu bisa dibilang muka baru yang belum punya pengalaman di bidang telekomunikasi. Jangankan pengalaman, kepemilikan infrastrukturnya saja diragukan banyak kalangan. Hal ini dinilai bisa menghambat penggelaran jaringan sesuai target kepada masyarakat.

Namun sekali lagi, Nuh tetap percaya, para pendatang baru itu, meski belum punya infrastruktur memadai, tetap bisa berkompetisi dengan operator yang sudah lebih dulu berkiprah di industri telekomunikasi.

"Siapapun yang punya tekad dan komitmen dalam bentuk jaminan uang lisensi, maka harus tetap kita beri kesempatan. Siapa pun itu. Jika kita hanya berikan lisensi kepada pemain lama, itu tidak fair. Selama proses mendapatkan lisensinya fair kita akan dukung agar tumbuh kompetisi baru. Harapannya bisa beri services lebih baik lagi," papar Nuh.

Mengenai isu pemilik perusahaan pemenang tender yang diklaim punya kedekatan dengan orang nomor satu dan dua di negara ini, menteri juga menegaskan hal itu tidak benar. Menurutnya, para pemenang dipilih karena memenuhi syarat, bukan karena kedekatan dengan penguasa.

"Kita tidak memasukkan faktor kedekatan, yang penting penuhi syarat. Siapapun yang bisa memberi harga paling tinggi akan kita beri kesempatan. Bukan karena kedekatan atau kejauhan. Dan ini, Insya Allah bisa kita pertanggungjawabkan," pungkasnya.

Meski pemenang tender BWA telah diketahui, namun pemerintah belum bisa menetapkan secara resmi karena masih dalam tahap masa sanggah. Jika tak ada perusahaan yang menyanggah putusan tersebut, Nuh akan menandatangani putusan pemenang pada minggu depan.

Setelah itu, para pemenang akan diberikan izin prinsip. Namun untuk bisa menggelar secara komersial, para pemenang harus lebih dulu dinyatakan lulus uji laik operasi.

Adapun lisensi yang dikantungi pemenang tender, akan dievaluasi setiap tahunnya berdasarkan pembangunan jaringan. Untuk zona Banten dan Jabotabek, misalnya, pada tahun pertama jaringan harus dibangun 20% dari area yang akan dilayani, tahun kedua 30%, tahun ketiga 45%, tahun keempat 60%, tahun kelima 80%, dan tahun keenam 100%.

wimax firstmedia ,Jika Internet Mahal, Artinya Wimax Gagal

Jakarta - Pemerintah dan para pemenang tender pita frekuensi 2,3 GHz untuk akses jaringan broadband wireless access (BWA), menyatakan optimismenya akan layanan internet yang cepat dan terjangkau bagi kantong semua lapisan masyarakat.

"Kalau harga ritel internetnya mahal berarti kami gagal," sergah Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh saat meresmikan delapan pemenang tender BWA di gedung Depkominfo, Jakarta, Jumat (31/7/2009).

Delapan pemenang tender itu adalah Berca Hardayaperkasa, First Media, Internux, Telkom, Indosat Mega Media, Jasnita Telekomindo, Rahajasa Media Internet. (a/n Konsorsium Wimax Indonesia), dan Konsorsium Comtronics Systems dan Adiwarta Perdania.

Jika ditotal, harga frekuensi yang mereka tawarkan melonjak sampai sembilan kali lipat dari total harga dasar 15 zona senilai Rp 52,35 miliar. Itu berarti total satu blok (1 x 15 MHz) laku terjual Rp 26,17 miliar.

Harga frekuensi termahal ada di zona 4 yakni Jakarta, Banten , Bogor, Tangerang, dan Bekasi senilai Rp 15,16 miliar per bloknya.

Itu belum termasuk biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi dan upfront fee. Jika dihitung-hitung, untuk menyewa frekuensi dan BHP, pemenang zona 4 harus membayar Rp 121 miliar dalam setahun.

Sebagai pemenang zona termahal itu, First Media dan Internux, keduanya mengklaim telah melakukan analisa dan hitung-hitungan bisnis yang komprehensif sebelum memutuskan untuk menawar lisensi frekuensi BWA di zona tersebut dengan harga selangit.

"Ini merupakan tujuan nasional supaya akses internet bisa banyak yang bisa memakai. Kita punya analisa dan optimisme agar pemakaian internet bisa berlipat ganda. Kalau hitungan bisnisnya semua masuk," sergah kedua pihak, senada.

Internet Murah WIMAX

Pemerintah Indonesia telah menetapkan pemenang delapan lelang akses pita lebar tanpa kabel atau Broadband Wireless Access dengan teknologi WIMAX (Worlwide Interoperability for Microwave Access). Ini berita halaman 1 dari Koran Kontan (Kompas Gramedia) tertanggal 1 Agustus 2009.

Wimax adalah salah satu teknologi BWA yang menyediakan jaringan data dan internet kecepatan tinggi tanpa kabel dengan cakupan area yang luas. Teoritisnya bisa mencapai 12-15 km dari posisi pemancar. Wimax lebih luas dari WiFi (Wireless Fidelity). Pada Wimax, tidak diperlukan tower/menara antena tidak perlu banyak karena cakupannya yang luas, sehingga mengurangi biaya investasi.

Para pemenang lisensi Broadband Wireless Access (BWA) berjanji memberikan tarif internet murah ke masyarakat meskipun dalam pembelian frekuensi harus mengeluarkan dana yang cukup besar.

"Jika dilihat dari jumlah pengguna internet yang ada sekarang, tentu hitung-hitungan harga yang dipasang bisa saja tinggi. Tetapi kami yakin jumlah pengguna internet akan bertambah,dan itu membuat harga yang ditawarkan ketika teknologi Wimax dikomersialkan lebih murah ketimbang sekarang," kata Direktur Utama First Media Dicky Moechtar usai acara penyerahan keputusan penetapan pemenang seleksi BWA 2,3 GHz, di Gedung Menkominfo, Jakarta, Jumat (31/7/2009).

First Media merupakan satu dari delapan pemenang lisensi BWA. Pemenang lainnya adalah Telkom, Indosat Mega Media, Internux, Jasnita Telekomindo, Berca Hardayaperkasa, Konsorsium Wimax Indonesia, dan Konsorsium Comtronics System dan PT Adiwarta Perdania.

Dikatakan Dicky, permintaan akses internet di Indonesia lumayan tinggi, hal itu terbukti dari eksponensialnya jumlah pengguna selama 3 tahun belakangan ini.

Kendati demikian, Dicky enggan mengungkapkan biaya investasi yang dikeluarkan perseroan karena semuanya masih dalam hitungan. "Yang jelas diluar belanja modal First Media tahun ini sebesar USD20 juta dollar," katanya.

First Media yang memenangi zona Jabotabek dan Banten rencananya akan mengeluarkan dana sekitar 121 milar rupiah per tahun untuk menyewa frekuensi dan biaya hak penyelenggaraan (BHP).

Yup semoga pemerintah bisa memberikan layanan internet murah meriah cepet dan berkualitas.
Semoga seperti di Singapore yang bisa menyediakan layanan internet gratis bagi masyarakatnya.

Indosat terancam tak bisa ikut lelang

Indosat terancam tak bisa ikut lelang

JAKARTA: Harga dasar penawaran (reserved price) lelang broadband wireless access (BWA) atau WiMax pita lebar nirkabel 2,3Ghz pada 15 zona ditetapkan Rp32 miliar dengan angka penawaran berbeda pada setiap zona.

Sumber Bisnis di kalangan pemerintahan mengatakan total harga penawaran pada lelang WiMax besarnya seperlima dari harga 3G beberapa waktu lalu sebesar Rp160 miliar. Harga dasar penawaran pada zona termurah hanya seperlima belas dari harga 3G, atau sekitar Rp160 juta per blok per zona.

"Harga penawaran WiMax memang jauh dibandingkan dengan harga yang ditawarkan pemerintah untuk layanan 3G. Harga dasar penawaran ini yang diajukan dan masih dibahas oleh Depkominfo dengan Departemen Keuangan," ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Iwan Krisnadi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengatakan harga dasar penawaran lelang WiMax memang ditetapkan lebih kecil dibandingkan dengan harga layanan 3G.

"Pada lelang ini pemerintah ingin mengembangkan industri, bukan hanya sekadar mencari uang," ujarnya.

Juru bicara lelang WiMax ini menambahkan harga setiap zona sengaja dibedakan agar seluruh pengusaha penyelenggara jasa dan jaringan bisa ikut serta. Harga paling rendah untuk satu blok dalam sebuah zona diyakini sanggup diambil oleh penyedia jasa kecil.

Lelang ini sudah melalui tahap rapat penjelasan (anwijzing) pada Jumat pekan lalu yang diikuti oleh 73 peserta pra kualifikasi yang telah mengambil dokumen seleksi. Semula pemerintah berencana mengumumkan harga dasar penawaran pada saat rapat, tetapi hal tersebut ditunda.

Rapat pekan lalu hanya membahas mekanisme dan sistem lelang. Harga dasar penawaran baru diumumkan pada anwijzing kedua yang rencananya digelar pekan ini karena hingga saat ini Depkeu belum menyetujui seluruh harga yang diajukan Depkominfo.

Indosat terancam

Kepemilikan asing menjadi salah satu topik yang paling ramai dibahas pada rapat pekan lalu. PT Indosat Tbk diperkirakan tidak bisa mengikuti lelang sendiri, harus bergabung dalam konsorsium atau memanfaatkan anak perusahaan yang dimiliki.

Iwan mengatakan pemerintah tetap berpegang pada aturan kepemilikan asing tidak boleh lebih dari 49% pada lelang penyelenggaraan jaringan tetap lokal (Jartap) berbasis packet switched.

"Masih ada pertanyaan yang belum terjawab mengenai perhitungan kepemilikan asing pada perusahaan terbuka. Pemerintah akan melakukan pembahasan terlebih dahulu agar tidak menjadi grey area," ujarnya.

Tulus Rahardjo, Ketua Panitia Lelang WiMax Depkominfo, mengatakan harga dasar penawaran dan pertanyaan yang belum terjawab pada rapat pekan lalu akan diumumkan serta diselesaikan pada rapat pekan ini.

"Harga dasar penawaran memang harus komprehensif dibahas agar tidak terjadi kesalahan. Kami masih membahas dengan Depkeu. Mekanisme banyak dibahas saat rapat tadi, salah satunya mengenai harga dasar penawaran pada tiga ronde lelang," ujarnya.

Indonesia Cari 30 Operator Wimax

Indonesia Cari 30 Operator Wimax

ilustrasi (ist)

Jakarta - Pemerintah berharap bisa mendapatkan total 30 penyelenggara akses pita lebar Wimax saat tender broadband wireless access (BWA) digelar pertengahan Juni mendatang.

Tender BWA di pita frekuensi 2,3 GHz itu akan dibuka untuk 15 zona wilayah di Indonesia, yakni Sumatera Bagian Utara, Tengah, dan Selatan, Jabodetabek, Jawa Bagian Barat, Tengah, dan Timur.

Kemudian, Bali Nusa Tenggara, Papua, Maluku dan Maluku Utara, Sulawesi Bagian Selatan dan Utara, Kalimantan Bagian Barat dan Timur, serta Kepulauan Riau.

"Idealnya ada dua operator Wimax di setiap zona wilayah," kata Dirjen Postel Depkominfo Basuki Yusuf Iskandar yang dikutip detikINET, Senin (11/5/2009).

Saat penutupan prakualifikasi tender minggu lalu, ada 73 perusahaan telekomunikasi yang mengambil dokumen seleksi. Namun, pemerintah masih belum juga mengumumkan harga dasar penawaran (reserved price) meski telah melewati tahap penjelasan lelang (anweijziing) pada Jumat lalu.

Isu yang beredar menyebutkan, harga dasar penawaran tertinggi yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 32 miliar dan terendah Rp 160 juta. Hal ini tak dibantah tegas Kepala Pusat Informasi Depkominfo, Gatot S Dewa Broto.

"Saya belum tahu pasti karena harga yang kami tawarkan belum di-approve Menteri Keuangan," kilahnya saat dikonfirmasi detikINET. Gatot juga menolak untuk menyebutkan harga yang dimaksud.

Bakal Sukses?

Jika nantinya pemenang tender BWA telah ditetapkan, Dirjen kembali menegaskan soal penggunaan perangkat Wimax dengan kandungan lokal. "Saya tak peduli pakai vendor apa, yang pasti harus ada kandungan lokal minimal 40%."

Ia pun yakin, inisiatifnya mendahulukan perusahaan lokal untuk mengembangkan BWA tidak salah. Bahkan sebaliknya, Wimax lokal dipercaya akan mendulang kesuksesan.

"Saya yakin tidak akan gagal," tegasnya. "Keyakinan saya didukung oleh instruksi presiden. Terlebih, ini momentum bagus bagi Indonesia untuk memajukan industri lokal," lanjut Basuki.

Indonesia selama ini memang cuma dijadikan pasar oleh para perusahaan penyedia jaringan dan perangkat telekomunikasi asing. Dari kisaran nilai bisnis telekomunikasi tahun lalu yang mencapai Rp 70 triliun, lokal cuma kebagian tak lebih dari 3%. Sementara sisanya dibawa ke luar oleh asing.

Fakta itu tentu sangat merugikan Indonesia. Industri dalam negeri cuma bisa jadi penonton di negeri sendiri. Oleh sebab itu, Basuki ingin sekali merubah pakem industri untuk lebih mengutamakan konten lokal, meski kualitasnya juga masih dipertanyakan banyak kalangan.

"Ini bukan berarti saya anti asing. Tidak. Saya hanya ingin lokal mampu bersaing dengan asing. Nanti, jika pada saatnya sudah bisa sejajar. Proteksi lokal akan saya kembalikan ke pasar bebas."

"Saya sadar kebijakan yang kami ambil tidak populis dan mengundang keraguan. Namun ini momentum Indonesia. Kita harus menjadi orang yang optimistis, yang selalu melihat peluang dalam kesulitan. Jangan jadi pesimistis yang melihat kesulitan dalam peluang," tandas Basuki dalam filosofinya.