Blog Planet Wifi Router is designed as a study material for menperdalam about WI-MAX technology, Wifi, Wireless Internet. May be an asset to our progress sgucci: 3G vs WiMax

Sarana dan Prasarana tempat tongkrongan kedai kopi sambil belajar Dasar-dasar WIFI, Hotspot, dan dunia internet

HOT NEWS

Showing posts with label 3G vs WiMax. Show all posts
Showing posts with label 3G vs WiMax. Show all posts

Protokol jaringan nirkabel


Tekonologi utama yang banyak digunakan untuk membuat jaringan nirkabel adalah keluarga
protokol 802.11, dikenal juga sebagai Wi-Fi. Keluarga protokol 802.11 dari protokol radio
(802.11a,802.11b, dan 802.11g) telah menikmati popularitas yang luar biasa di Amerika
Serikat dan Eropa. Dengan menggunakan keluarga protokol yang sama, para produsen di
seluruh dunia telah membuat peralatan yang saling interoperable. Keputusan ini telah tebukti
menjadi anugrah yang luar biasa terhadap industri dan para konsumen. Konsumen dapat
memakai peralatan yang menggunakan 802.11 tanpa harus takut terhadap ketergantungan
terhadap suatu pedagang. Hasilnya, konsumen bisa membeli peralatan murah dalam volume
yang sudah menguntungkan para produsen. Jika para produsen memilih untuk tetap
memakai protokol mereka sendiri, sepertinya tidak mungkin jaringan nirkabel dapat semurah
dan bisa ada dimana-mana seperti sekarang ini.
Sementara protokol-protokol baru seperti 802.16 (dikenal juga sebagi WiMax) sepertinya bisa menyelesaikan beberapa kesulitan yang tampak pada 802.11, mereka tampaknya harus
melalui jalan yang panjang untuk dapat menyaingi popularitas peralatan 802.11. Di penulisan,
kami akan fokus pada keluarga 802.11.
Ada banyak protokol di keluarga 802.11, dan tidak semua berhubungan langsung dengan
protokol radio itu sendiri. Ada tiga (3) standar nirkabel yang sekarang di implementasikan di
kebanyakan peralatan yang sudah siap pakai, yaitu:

● 802.11b. Disahkan oleh IEEE pada tanggal 16 September 1999, 802.11b mungkin
adalah protokol jaringan nirkabel yang paling populer yang dipakai saat ini. Jutaan
alat-alat untuk mendukungnya telah dikeluarkan sejak 1993. Dia memakai modulasi
yang dikenal sebagai Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS) di bagian dari ISM
band dari 2.400 sampai 2.495 GHz. Dia mempunyai kecepatan maximum 11 Mbps,
dengan kecepatan sebenernya yang bisa dipakai sampai 5 Mbps. 
● 802.11g. Karena belum disahkan sampai Juni 2003, 802.11g merupakan pendatang
yang telat di pasar nirkabel. Biarpun terlambat, 802.11g sekarang menjadi standar
protokol jaringan nirkabel de facto karena sekarang dia pada hakekatnya dipakai di
semua laptop dan kebanyakan alat-alat handheld lainnya. 802.11g memakai ISM band
yang sama dengan 802.11b, tetapi memakai modulasi yang bernama Orthogonal
Frequency Division Multiplexing (OFDM). Dia punya kecepatan maximum data 54
Mbps (dengan throughput yang bisa dipakai sebesar 22 Mbps), dan bisa turun menjadi
11 Mbps DSSS atau lebih lambat untuk kecocokan dengan 802.11b yang sangat
populer.
● 802.11a. Disahkan juga oleh IEEE pada tanggal 16 September 1999, 802.11a
memakai OFDM. Dia punya  kecepatan maximum data 54 Mbps, dengan throughput
sampai setinggi 27 Mbps. 802.11a beroperasi di  ISM band antara 5.745 dan 5.805
GHz, dan di bagian dari UNII band diantara 5.150 dan 5.320 GHz. Ini membuatnya
tidak cocok dengan 802.11b atau 802.11g, dan frekuensi yang lebih tinggi berarti
jangkauannya lebih pendek dari pada 802.11b/g dengan daya pancar yang sama.
Memang bagian dari spektrumnya relatif tidak dipakai dibandingkan dengan  2.4 GHz,
sayangnya dia hanya legal digunakan di sedikit negara di dunia. Tanyakan kepada
pihak yang berwenang sebelum memakai peralatan 802.11a, terutama untuk
penggunaan di luar ruangan. Peralatan 802.11a sebetulnya relatif murah, tapi tidak
sepopuler 802.11b/g.

Selain dari standar di atas, ada beberapa pengembangan pada peralatan, kecepatan yang
tinggi, enkripsi yang lebih kuat, dan jangkauan lebih jauh, yang vendor-specific. Sayangnya
pengembangan ini tidak bisa bekerja di antara peralatan-peralatan dari produsen lain, dan
membeli mereka berarti mengharuskan anda memakai pedagang itu di semua bagian
jaringan anda. Peralatan dan standar baru(seperti 802.11y, 802.11n, 802.16, MIMO dan
WiMAX) menjanjikan pertambahan kecepatan dan bisa diandalkan yang signifikan, tetapi
peralatan ini baru mulai dijual ketika penulisan ini dimulai, dan ketersediaan barang dan
kecocokan dengan peralatan lain masih belum pasti. Karena ketersediaan peralatan dimana-mana dan sifatnya yang tidak perlu ijin dari 2.4 GHz
ISM band


WiMAX development scenarios


Kita akan memasuki jaringan 4G dengan membangun arsitektur yang merupakan perpaduan solusi VoIP dan Mobile IP based. Arsitektur ini merupakan perpaduan WiMAX micro-cell dengan Wi-Fi yang mendukung layanan voice dan data yang pada awalnya akan dikembangkan untuk daerah perkotaan dan akan dihubungkan dengan WiMAX macro-cell melalui  interoperability link WiMAX point-to-point. Kedepannya ketika mobile WiMAX akan memasuki pasar maka dibangun sesuai dengan model yang sama dengan layanan seluler untuk memenuhi tujuan jaringan 4G. 
WiMAX micro cell bergabung dengan Wi-Fi sebagai jalur migrasi menuju 4G Saat ini pengguna harus mulai mempertimbangkan apakah akan menggunakan Wi-Fi,WiMAX atau keduanya, karena beberapa device sudah mulai ditanamkan WiMAX Radio. Berbeda dengan Wi-Fi yang sudah sejak lama ada pada notebook, ponsel dan PDA. Untuk implementasi awal, WiMAX akan digunakan sebagai backhaul untuk memperluas WiFi hotspot dalam membentuk micro cell. Dengan WiMAX, hotspot akan dikonversi menjadi hotzone, agar ponsel Wi-Fi Voip seperti VoiceLine XJ100 yang dibuat oleh Net2Phone dapat tetap tersambung walaupun bergerak dari satu hotspot ke hotspot yang lain. Satu WiMAX base station dapat menangani ratusan megabit per detik data dan dapat menjadi feeder satu atau lebih Wi-Fi AP pada satu gedung.
Pembangunan Mobile WiMAX menuju 4G Mobile WiMAX telah ada sejak tahun 2007-2008 yang memfasilitasi pengguna ponsel VoIP dapat berkomunikasi pada area perkotaan,daerah pedesaan atau yang susah dijangkau jaringan kabel yang dilayani oleh spektrum WiMAX. Pengguna akan melakukan koneksi ke Wi-Fi (802.11) ketika mereka berada di hotspot, dan akan melakukan koneksi ke WiMAX (802.16) ketika mereka meninggalkan hotspot dan berada pada area layanan WiMAX. Untuk penawaran mobilitas, layanan wireless harus memiliki mobilitas seperti pada layanan telepon seluler. Solusinya adalah dengan membuat cell cell kecil,daripada mencoba menjangkau wilayah yang luas menggunakan satu antena.



LTE Harus Bersabar Tunggu Wimax

 - Sepertinya Indonesia masih harus bersabar untuk bisa menikmati teknologi Long Term Evolution (LTE). Sebab, implementasi LTE masih harus menunggu WiMax (Worldwide Interoperability for Microwave Access) jalan dulu.

Hal ini ditegaskan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring saat disambangi di Restoran Wisata Bahari, Manado.

"LTE harus menunggu Wimax dulu. Biarkan Wimax berkembang dulu di sini. Baru setelah itu LTE," ujarnya, Selasa (15/3/2011).

Bahkan Tifatul menegaskan bahwa LTE belum bisa diimplementasikan dalam waktu dekat. Dirinya menganggap bahwa teknologi LTE tersebut setingkat lebih tinggi di atas Wimax. Karenanya, pemerintah memberikan kesempatan Wimax untuk berkembang terlebih dahulu.

"LTE dalam waktu 3 tahun juga belum tentu diimplementasikan. Wimax belum seluruhnya. LTE itu sudah di atas Wimax," jelasnya.

SITRA 4G WIMAX | Impacting Lives -Sgucci Wimax blog

Sitra adalah merk dagang First Media yang menghadirkan teknologi Wimax pertama di Indonesia, layanan broadband internet nirkabel generasi keempat (4G) dengan teknologi Wimax. Ini merupakan tindak lanjut First Media TK setelah memenangkan tender penyelenggaraan jaringan tetap lokal berbasis packet switched yang menggunakan pita frekuensi radio 2,3 GHz untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel. First Media berhak menyelenggarakan jaringan tetap lokal di zona 1 yakni Aceh dan Sumatera bagian utara dan zona 4 yang mencakup Jabodetabek.
Hengki Dewanto, Presdir PT First Media Tbk mengatakan pihaknya menyiapkan US$350 juta dalam 10 tahun ke depan. Sejauh ini perusahaan itu telah mengeluarkan dana US$50 juta Sitra WiMax menargetkan dapat meraih lebih dari 100.000-150.000 pelanggan dalam satu tahun.
Internet and pay-TV provider PT First Media on Monday launched its WiMax network, Indonesia’s first fourth-generation wireless broadband network. The network, which is promised to cover Greater Jakarta and North Sumatra, will be operated by the company’s subsidiary Sitra Wimax, which aims to reach 150,000 customers in its first year of the operation. “We’re coming into a market which is crowded with fixed-line operators and third-generation (3G) operators, but WiMax has the technical capability to reach speeds five times faster than the average connection speed and provides a stable connection,” said Kumaran Singaram, Sitra WiMax’s chief executive. “When we say it’s a 4 megabits per second connection, it’s a stable, constant 4 mbps connection. It’s not an ‘up to 4 mbps’ promotion used to lure customers,” he said. Around 30 million Indonesians are estimated to have Internet access, with around 4 million having high-speed access (more than 1 mbps). “The number may be small, but we addressed it as an opportunity. The number of broadband subscribers is growing,” Kumaran said, adding that the company is targeting one million subscribers in five years. “Indonesia is an emerging market and the broadband sector has not been fully tapped. A one percent increase in Internet penetration translates into 0.1 percent GDP growth,” Kumaran added. Sitra WiMax would cover areas where Fastnet, First Media’s fiber optic Internet service could not reach, instead of “cannibalizing” its existing customers, he said. “Fastnet infrastructure only covers 25 percent of Greater Jakarta. Sitra will cover the rest of it because building WiMax infrastructure is faster and cheaper than fixed-line,” Kumaran said. The service has been soft-launched in Lippo Karawaci, and Sitra says it will be rolled out in Jakarta in coming months. Hengkie Liwanto, First Media’s president director, said that so far his company had invested $50 million in Sitra, and would invest up to $350 million over the next decade. “For the first year, Sitra will need an additional $100 million for capital expenditure,” he said. The capital expenditure would be financed by a Rp 456 billion ($52 million) rights issue and internal cash and bank loans, he said. In order to increase market penetration, Sitra will offer packages for prices lower than the average market rate. “For 1 mbps it will be around Rp 200,000 per month and for 4 mbps it will be around Rp 500,000 per month.” Fourth-generation wireless technologies such as WiMax and Long Term Evolution promise to deliver much faster download speeds. WiMax has a maximum speed of 40 mbps, while LTE has a maximum speed 100 mbps. “We have the technology for WiMax. It’s real and it’s here. LTE technology is not mature yet, maybe it will be within three years,” Hengkie said. First Media won a tender held by the Ministry of Communication and Information Technology in July for government bandwidth, securing a license for a 2.3 GigaHertz frequency band to be used for its WiMax service. Budi Setiawan, the director general for post and telecommunications at the ministry, said that First Media had passed the operational worthiness test. Budi called for Sitra to implement its services in North Sumatra immediately, instead of just focusing on Greater Jakarta. He said First Media’s freeloading problem — people getting free access by piggy-backing on others’ wireless — had been resolved. “We have cleaned most of the frequencies from freeloaders. Most of them did not know that they were freeloading on First Media’s network,” Budi said. First Media and the Jakarta Globe are affiliated with the Lippo group.

What - Apa itu? Sitra Wimax (SitraWiMAX) dari First Media

BYE BYE 3G! Indonesia's FIRST 4G WiMAX Broadband Internet Provider. Pioneering its way to impact people's lives. Layanan internet broadband nirkabel Sitra Wimax yang baru saja diluncurkan PT First Media bakal menjangkau semua wilayah Jabodetabek dalam 4 tahun mendatang. Sitra WiMax - Sitra WiMax adalah salah satu penyedia jasa koneksi internet kecepatan tinggi yang dihadirkan oleh PT First Media TBK .
Sitra WiMax percaya kalau teknologi WiMax mampu menhadirkan Internet dengan kecepatan yang baik. Mereka tetap yakin WiMax adalah jawabannya bahkan setelah menunggu dan melakukan kajian selama satu tahun penuh dengan melibatkan tenaga ahli nasional maupun asing.
Untuk menyukseskan layanan Wimax di zona yang dimenangi oleh First Media, Sitra Wimax akan menggelontorkan investasi sekira USD350 juta.Diungkapkannya, hingga kini perseroan membangun sekitar 90 BTS untuk layanan Sitra Wimax dalam tiga bulan ke depan di Jakarta, Bogor, Depok. Layanan Sitra Wimax akan tersedia di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) mulai awal Juli 2010. Sitra Wimax akan tersedia dalam tiga pilihan paket layanan untuk pelanggan masing-masing dengan kecepatan 1 Mbps, 2 Mbps.

Para Provider Wimax ? Mau Susupi Wimax Kids ke Sekolah Favorite

Intel dan Indosat M2 berkolaborasi menawarkan program pengadaan komputer beserta koneksi internet nirkabelnya di sekolah-sekolah. Program itu nantinya jadi cikal-bakal untuk membidik peluang Wimax di sekolah.

Hal itu diakui Business Development Manager Intel Indonesia, Yadi Karyadi. "(Program) ini memang pondasinya. Begitu, ekosistem di sekolah sudah terbentuk dan regulasinya sudah bergulir, kita akan masukan Wimax di sekolah," ungkapnya di sela penandatangan kerjasama Intel dan Indosat M2 di Hotel Ritz Charlton, Jakarta, Jumat (16/5/208).

"Tapi sekali lagi, itu dengan asumsi regulasinya (broadband wireless access atau BWA) sudah jalan," tegasnya lagi.

Intel dan Indosat M2 menyepakati perjanjian untuk menggelar proyek pengadaan komputer dan koneksi internet nirkabel di sekolah-sekolah. Penandatanganan kerjasama tersebut disaksikan Chairman Intel Corp Craig R Barret.

Perjanjian tersebut bertujuan untuk memberi kesempatan pada pihak sekolah untuk memiliki komputer berbasis prosesor Intel dan koneksi internet pita lebar 3,5G dari Indosat M2 dengan harga yang lebih rendah dari pasaran.

"Ada tiga pilar yang difokuskan untuk pengembangan proyek ini, di antaranya hardware, konten, dan connectivity. Kami di sini bekerja sama dengan Intel untuk pengadaan connectivity dengan menyediakan akses broadband wireless," Dirut Indosat M2 Indar Atmanto menjelaskan.

"Program ini targetnya bisa berjalan tiga tahun di sepuluh kota. Di tahap awal akan kami adakan pilot project selama tiga bulan di tiga sekolah untuk mencari metode yang tepat, meliputi proses training, konten, penerepan metode yang menarik untuk siswa, dan infrastruktur lainnya" ujarnya lagi.

Ia menyebutkan, ketiga sekolah yang terpilih untuk dijadikan proyek percontohan ialah SMU Lab School, SMUK Penabur, dan SMU Al Azhar. Ketiganya berada di Jakarta.

Handphone Wimax

Samsung Android Epic 4G Reaps Rave Reviews handset the best smartphone running mobile Linux on WiMax? Read the reviews...The Epic 4G supports Sprint's WiMax, or the fourth-generation of wireless network technology which offers faster...excellent keyboard and speedy WiMAX... Sgucci 4G review Becoming just the second WiMAX phone released in the States (and the first with a physical keyboard), ...support for the wickedly fast WiMAX network that Sprint shares with partner Clearwire...WiMAX 2 standard, and its theoretical 1Gbps. Samsung Sgucci 4G | Android Phone Fans advantage of Sprint's ever-growing 4G WiMAX network....Seems that HTC's EVO 4G is no longer the only Sprint WiMAX game in town, thanks to this shiny new Samsung Epic...the Samsung Epic 4G for Sprint features not only 4G WiMAX. Sprint unveils Samsung Epic 4G – Android and Me join the HTC EVO 4G as Sprint’s second phone to support their 4G WiMAX network....enabled devices 4G data speeds (WiMAX) – peak...Wimax is like turbo3G here in sweden. 4G is LTE at speeds of at least... Samsung Epic 4G: A Killer Multimedia Phone we were unable to test the 4G performance on the Epic as Sprint's WiMAX network

Wimax Indonesia

Jepang Songsong Teknologi Wimax dan LTE Beberapa tahun lagi, pasar seluler di Jepang akan mencapai titik jenuh. Seperti di Indonesia, para operator di Negeri Sakura itu juga sudah mulai kasak-kusuk mengantisipasi dengan menyongsong teknologi Wimax dan LTE. Read more...

3G vs WiMax

Tinjauan Historis
3G adalah generasi ketiga dari cellular telephone dan generasi kesekian dari keluarga telepon [sejak 1876], mulai dari PSTN (telepon biasa), cordless telephone, wireless local loop (FWA, C-phone, star-One, dan flexi yang bukan telepon biasa), mobile telephone, hingga cellular telephone (1G, 2G, 2.5G, 3G, … 4G-kah? atau NGN).
Pesawat telepon yang pada awalnya terhubung ke jaringan (PSTN cloud) melalui kabel tembaga (:wire) hingga sekitar 100 tahun kemudian, secara dramatis bergeser menjadi koneksi melalui udara (wireless) sebagai akibat dari majunya teknologi radio yang didukung oleh kemampuan fabrikasi chip semikonductor dan perubahan gaya hidup manusia yang semakin mobile yang menuntut tersedianya alat komunikasi yang portable.
Namanya saja telephone yang terjemahan bebasnya “suara jarak jauh”, maka jaringan telephone sejak awal adalah dirancang untuk melayani komunikasi percakapan. Komunikasi percakapan harus real-time karena “hallo” saat ini harus dijawab saat ini juga, tidak boleh dibalas dengan “hallo” beberapa menit kemudian. Oleh karena itu, yang terpikir tentang jaringan telepon saat itu adalah sebuah jaringan yang circuit oriented (: sambung dulu baru bicara) yang dalam bahasa teknisnya call setup before conversation.

WiMax adalah interface udara (wireless) generasi kesekian dari teknologi wireless-IP yang berfungsi untuk mengakses Internet via udara. Internet adalah jaringan komputer sedunia yang awalnya terjadi akibat munculnya kebutuhan untuk menghubungkan 2 komputer atau lebih agar orang bisa melakukan transfer file (data) secara cepat dan efisien. Seiring dengan kemampuan manusia dalam mengembangkan software aplikasi yang semakin maju dan makin tingginya kemampuan hardware, jaringan komputer meluas pesat dan kemudian dimanfaatkan juga untuk email, bulletin board system(BBS), dan komunikasi data yang lebih rumit seperti worl wide web (www), chating, game online, dan streaming audio/video.
Seperti yang terjadi pada telepon, PC (personal computer) yang pada awalnya terhubung ke jaringan komputer melalui kabel, secara perlahan semakin banyak yang harus terhubung via wireless (radio atau infrared) karena desakan konsumen yang semakin tinggi mobilitasnya. Pengembangan produk wireless system dengan cepat mulai dari infrared (IRDA) hingga yang radio seperti bluetooth, WiFi berlabel hotspot atau access-point untuk indoor (radius jangkauan teoritis 50 meter) dan waveLAN point-to-point untuk link antara user ke ISP (jangkauan hingga sekitar 12 mil) yang keduanya mengacu pada pokja IEEE 802.11, dan WiMax (pokja IEEE 802.16: long range point to multi point) yang jangkauannya dibuat hingga 10 km. WiMax yang pada awalnya dirancang untuk melayani akses data dari fixed-client dan client nomadic berkecepatan pejalan kaki, pada akhirnya cenderung dikembangkan pula untuk client berkecepatan hingga 120 km/jam (:WiMax mobile), sehingga model jaringannya nanti akan menyerupai cellular telephone sehingga bisa dikatakan bahwa WiMax mobile ini akan menjadi “cellular-PC” ( awalnya ini adalah tugas dari pokja IEEE 802.20: Mobile-Fi atau mobile-IP).
Jaringan komputer dalam sejarahnya adalah dirancang untuk mengkomunikasikan data dimana yang paling dipentingkan saat itu adalah bahwa data bisa sampai di penerima secara utuh (benar 100%), tidak penting berapa lama. Belum terpikir tentang komunikasi data yang realtime karena yang akan dikirim adalah file. Oleh karena itu, jaringan komputer dibangun berdasarkan packet-oriented (file dipecah menjadi paket-paket yang dikirim secara terpisah). Berapa lama seluruh paket akan tiba di penerima tergantung pada ketersediaan bandwidth di saluran. Bila jumlah pengguna lebih sedikit, maka bandwidth yang tersedia menjadi lebih besar sehingga pengiriman data bisa lebih cepat.

Suasana di dekade terakhir abad ke-20
Jaringan telepon yang memulai sejarahnya pada tahun 1876, mengalami kemajuan teknologi switching dan transmisi yang lambat selama hampir 80-tahun, hingga manusia menemukan semikonductor di tahun 1950-an dan berhasil membuat IC di tahun 1960-an. Dalam kurun waktu 30 tahun kemudian, terjadi kemajuan yang sangat pesat dalam aplikasi elektronika di semua sektor. Jaringan telepon darat (PSTN) yang semula hanya untuk voice, pada dekade 1990 telah menjadi jaringan digital yang mampu melayani semua jenis informasi (voice, audio, picture, video, dan data) yang diberi nama ISDN (integrated services by digital network).
Teknologi radio telah berkembang pula dengan sangat cepat dan digunakan dalam bisnis broadcasting radio, televisi, radio dua arah, paging, trunking, satellite, dan wireless telephones. Perubahan gaya hidup telah mendorong lahirnya cellular telephone 1G (analog) di tahun 1980-an dan disusul oleh generasi kedua, 2G (digital) di tahun 1990-an. Hingga tahun 2000 terjadi perlombaan membuat handphone berukuran kecil dan ringan karena saat itu portability merupakan hal yang menarik untuk dijadikan fitur promosi.
Pada dekade 1990 ini pula, hardware komputer mengalami kemajuan yang paling pesat, dari CPU ber-clock 30 MHz menjadi ber-clock di atas 600 MHz sehingga memungkinkan sebuah PC untuk bisa mengolah tidak hanya data teks, tetapi juga voice, audio, dan video yang membuatnya kemudian disebut komputer-multimedia.
Sekitar 5 tahun sebelum abad 20 berakhir, Internet secara tidak terduga booming di banyak negara termasuk Indonesia. Bukti dari ketidak-terdugaan ini adalah dipakainya TCP/IP sebagai protocol standard de-facto; bukannya OSI 7-layer.

PSTN→ISDN : multimedia-telephone network
Cellular 1G→2G, 2,5G : wireless-telephone/MMS network
Data Comm→Internet : multimedia-PC/data network

Dimulailah babak baru bagi para peneliti, pengusaha, dan produsen teknologi komunikasi untuk beralih fokus pada jaringan berbasis packet-oriented.

Suasana di awal abad ke-21
Booming Internet di akhir abad-20 telah membawa dampak sosial yang luar biasa. Orang belajar dari Internet, guru mencari bahan mengajar dari Internet, promosi, mencari kerja, publikasi, hiburan, dan banyak lagi ragam content yang ditawarkan. Banyak pula modus kejahatan baru yang mengharuskan lahirnya bidang penelitian baru, regulasi baru, dan pelajaran baru bagi masyarakat. Internet yang menjadi sumber informasi yang hampir tak terbatas, menciptakan peluang baru dalam bisnis perangkat akses data via jaringan yang sudah ada. Beberapa perangkat yang muncul di awal abad-21 misalnya:
- Akses Internet via PSTN. Awalnya sekedar memanfaatkan kanal voice yang 300~3400 Hz dengan modem yang standard-nya diatur dalam rekomendasi seri V dari ITU-T dengan kecepatan maksimal 56kbps. Namun kemudian muncul ide untuk memanfaatkan kabel lokal dari rumah ke STO tanpa melalui 300~3400Hz tadi. Lahir produk baru yang dikenal sebagai modem ADSL sebagai pengganti kabel optik ISDN-BRI. Produk ini digunakan untuk layanan akses Internet via kabel dengan merk dagang Indonesia: “SPEEDY”.
- Akses Internet via cellular phone. Beberapa operator cellular bekerjasama dengan beberapa ISP untuk menawarkan layanan akses Internet melalui sistem seluler. Internet bisa langsung diakses menggunakan handphone, tetapi kurang menarik karena ukurannya yang terlalu kecil; dan bisa juga diakses menggunakan laptop dengan DCE modem seluler (GSM or CDMA 2/2.5G). Pada decade ini diluncurkan jaringan telepon seluler 3G yang menawarkan kecepatan akses data hingga 2 Mbps. Lalu disusul dengan protocol baru HSDPA/HSUPA berkecepatan lebih tinggi yang di-label 3.5G. Adakah 4G?
- Akses Internet via wireless IP-devices. Produk teknologi yang mengacu pada hasil pokja IEEE 802.11(a,b,g) yang diberi nama WiFi digunakan untuk hotspot atau access-point radius 50 m indoor dan P2P waveLAN yang digunakan untuk koneksi fixed-wireless antara Warnet atau kantor dan ISP.
- Mobile terminals. Pada dekade awal ini juga bermunculan produk terminal yang berbasis pocket-PC seperti HP dan PDA, yang dilengkapi dengan bluetooth untuk wireless-adHoc dan WiFi (di samping telepon) yang bisa digunakan untuk meng-akses LAN via hotspot atau access point. Ragam Wireless technology yang diluncurkan ke pasar yaitu: RFID dengan jangkaun <50cm, bluetooth<10m, WiFi<50m, WLAN up to 12 miles point-to-point, dan WiMax up to 10 km point-to-multipoint.

“Perang dingin” 3G vs WiMax
Saat ini, jaringan 3G atau pun 3.5G merupakan jaringan cellular phone yang siap untuk melayani transfer data (Data over Voice network) dengan GPRS, EDGE atau HSDPA dan HSUPA-nya. Sedangkan WiMax sebagai jaringan “cellular PC” juga sudah siap untuk melayani percakapan (Voice over IP/Data network). Apapun jenis terminal di sisi pelanggan, apakah itu sebuah laptop, PDA, atau pun handphone, semuanya bisa dilengkapi dengan interface WiFi, Wimax, modem HSDPA, atau sekedar modem CDMA/GSM biasa untuk bisa menelepon dan/atau mengakses internet. Ini berarti bahwa persaingan di dalam bisnis terminal-devices ini akan berlangsung biasa-biasa saja dan berkisar pada tiga jenis terminal yaitu Handphone, PDA, dan Laptop yang secara alamiah sudah terkelompok kelas harganya. Pertanyaannya: nyamankah mengakses Internet menggunakan sebuah handphone? Atau, nyamankah menelepon menggunakan sebuah laptop? Bagaimana pula bila melakukan keduanya menggunakan PDA? Tentunya selera dan daya beli pelanggan yang paling menentukan semaraknya bisnis terminal-devices ini.
Persaingan yang mungkin lebih seru adalah dalam bisnis sewa saluran atau infrastruktur jaringan. Untuk apa pelanggan menyewa saluran atau dalam kata lain, layanan apa yang diminta pelanggan? Voice atau Data? Menelepon atau akses Internet? Jaringan 3G atau 3.5G menawarkan layanan komunikasi voice yang sangat baik karena jaringan ini memang dirancang untuk melayani voice (:percakapan) dengan sejarahnya yang lebih dari 100 tahun. Sedangkan untuk layanan data, kecepatan akses yang saat ini mampu disediakan adalah hingga cuma sekitar 6 Mbps (shared). Sebaliknya, Wimax mampu menyediakan saluran dengan kecepatan data hingga 40 Mbps atau lebih (shared) dan layanan percakapan VoIP yang kualitasnya tidak akan menyamai percakapan melalui jaringan telepon, terutama pada kondisi trafik padat. Singkatnya, 3G lebih baik untuk menelepon tapi kurang cepat untuk akses Internet; sedangkan Wimax lebih baik untuk akses Internet, tapi bisa kurang baik untuk menelepon. Apabila kedua produk teknologi ini diterapkan di kawasan kota/metropolitan secara berdampingan, maka akan terjadi persaingan yang sangat seru dalam perebutan pelanggan karena keduanya menawarkan jasa layanan yang sama, yaitu voice dan data.

Dampaknya bagi Indonesia
Bagi negara produsen teknologi, lahirnya produk-produk baru berarti harapan baru untuk meningkatkan kemakmuran. Bagaimana pengaruhnya pada Indonesia tercinta? Akankah tercipta lapangan kerja baru karena munculnya pabrik baru?, ataukah akan muncul PMA baru dengan manajer asing baru?, atau sekedar importir baru yang mengimpor barang 100% jadi?, ataukah bahkan importir lama tetap berjaya tanpa ada tambahan lowongan kerja? Sehingga yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, dan penganggur tetap tidak berubah.
Untuk saat ini dimana investasi 3G baru saja dimulai, akankah Wimax mendapatkan kebebasan untuk bersaing menawarkan layanannya. Seberapa banyak calon pelanggan yang kira-kira memerlukan koneksi Internet yang mobile? Bagaimana nasib operator 3G bila ditambah Wimax: berapa calon customer dibagi berapa operator?
Apapun yang akan terjadi, setidaknya Pemerintah sebagai regulator akan mendapat beban tugas baru yaitu menyusun regulasi terkait alokasi band frekuensi baru dan bagaimana menjamin kesehatan kompetisi usaha, bagaimana memanfaatkan momentum lahirnya produk baru sebagai peluang membuka lapangan kerja baru, bagaimana memanfaatkan potensi pasar domestik yang besar ini sebagai bargaining-power untuk “memaksa” pabrikasi dalam negeri, dan seterusnya. Siapa tahu, pada 100 tahun Harkitnas ini, terjadi sesuatu yang bersejarah di negeri ini.

Pentingnya Content Domestik
Terminal-devices (hp, PDA, laptop) banyak tersedia dengan banyak pilihan, demikian pula dengan infrastruktur jaringan (saluran akses) sudah pula banyak tersedia oleh banyak operator telekomunikasi. Namun apa yang mau di-akses dan kemana mau meng-akses, masih menjadi pertanyaan besar di benak pelanggan. Di era informasi ini, di tengah masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society) ini, ketersediaan informasi dan sumber pengetahuan semestinya merupakan kebutuhan primer yang mutlak harus ada. Semakin banyak tersedia server content domestik, semakin banyak pilihan sumber informasi, maka semakin besar kemungkinan orang meng-akses-nya, semakin tinggi trafik komunikasi, semakin banyak diperlukan saluran menuju server, sehingga semakin berkurang beban persaingan di antara operator.
Untuk jangka pendek, rasanya akan sangat bermanfaat bila segera dibangun server mirror dari beberapa server terkemuka di dunia agar trafiknya di domestik saja.