Teknologi WiMax atau Worldwide Interoperability for Microwave Access seperti dikutip dari situs BPPT adalah generasi keempat telekomunikasi (4G) yaitu teknologi nirkabel pita lebar berbasis protokol internet berkecepatan tinggi yang memungkinkan transfer data hingga 80 Megabite per detik (Mbps), jauh lebih cepat dari layanan internet berbasis layanan seluler generasi ke tiga (3G) yang hanya sekitar 2,4 Mbps. Wimax juga memungkinkan jangkauan telepon dan internet yang lebih luas, dan tidak seperti Wi-fi yang menawarkan kemampuan untuk menyambungkan koneksi tanpa kabel ke berbagai lokasi di kota-kota, Wimax mampu memberikan sambungan untuk para penggunanya dimanapun mereka berada.
Aksi Demonstrasi berikutnya adalah kemampuan WiMax melakukan Teknologi Multicast. Dengan menerapkan teknologi ini sang pengguna tetap menggunakan kapasitas bandwith yang tetap meski membuka sejumlah situs aplikasi video disaat yang sama.
“Inilah,”kata Pak Onno,”yang membedakan WiMax dengan koneksi internet konvensional. Kanal yang dipakai adalah IP Address pengguna, jadi sebanyak apapun sang pemakai membuka akses internet, kapasitas bandwithnya tetap sama. Ini sebuah lompatan teknologi yang luar biasa”
Demonstrasi keunggulan WiMax berikutnya adalah kemampuannya melakukan video Call lewat VOIP serta menghubungi telepon konvensional lewat telepon berbasis WiMax.Yang menarik pada salah satu handphone yang dipinjam Pak Onno, terdapat indikator “4 G”. Dengan suara bergetar, Pak Onno berkata,”Lihatlah, di ruangan kita sekarang, sebuah era baru teknologi komunikasi telah tiba, era 4 G!”. Seketika aula Graha Widya Bhakti Puspitek bergemuruh oleh tepuk tangan hadirin.
Pak Onno lalu menyajikan presentasi soal konfigurasi WiMax, yang terus terang membuat saya bingung dengan terminlogi yang tidak saya kenal. Namun yang menarik adalah, kelak dengan menggunakan teknologi WiMax, kita bisa membuat sentra telepon sendiri berbasis VOIP dan menginstall sendiri softwarenya yang open source secara gratis.
HOT NEWS
Showing posts with label tender Wireless. Show all posts
Showing posts with label tender Wireless. Show all posts
Berca Kuasai Zona BWA Terbanyak
Jakarta - Pemerintah telah menetapkan pemenang yang mengajukan posisi tawar tertinggi untuk 15 zona broadband wireless access (BWA) yang hari ini selesai dilelang. Dari 15 zona tersebut, tujuh zona di antaranya dimenangkan PT Berca Hardaya Perkasa.
Menkominfo Mohammad Nuh memaparkan demikian di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (16/7/2009). Berikut nama perusahaan di 15 zona dengan posisi tawar paling tinggi:
Zona 1, Sumatera Utara, posisi tertinggi ditawar PT First Media Tbk senilai Rp7.201.000.000. Zona 2, Sumatera Bagian Tengah, posisi tertinggi ditawar PT Berca Hardaya Perkasa sebesar Rp5.125.000.000
Zona 3, Sumatera Bagian Selatan, PT Berca, Rp5.125.000.000. Zona 4, Banten Jabodetabek, PT First Media, Rp 121.201.000.000. Sementara zona 5, Jawa Barat, Konsorsium PT Comtronic System dan PT Adiwarta Perdana, Rp25.218.000.000
Zona 6, Jawa Tengah, PT Telkom, Rp18.654.000.000, dan Zona 7, Jawa Timur, Konsorsium PT Comtronic System dan PT Adiwarta Perdana, Rp31.518.000.000. Sedangkan sona 8, Bali dan NTB, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp5.100.000.000
Zona 9, Papua, PT Telkom, 775.000.000. Zona 10, Maluku dan Maluku Utara, PT Telkom, Rp533.000.000. Zona 11, Sulawesi Selatan, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp5.299.000.000. Zona 12, Sulawesi Bagian Utara, PT Telkom, Rp1.177.000.000
Zona 13, Kalimantan Barat, PT Berca Hardaya Perkasa , Rp6.991.000.000. Kemudian zona 14, Kalimantan Bagian Timur, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp3.490.000.000. Terakhir zona 15, Kepulauan Riau, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp4.000.000.000.
Menkominfo Mohammad Nuh memaparkan demikian di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (16/7/2009). Berikut nama perusahaan di 15 zona dengan posisi tawar paling tinggi:
Zona 1, Sumatera Utara, posisi tertinggi ditawar PT First Media Tbk senilai Rp7.201.000.000. Zona 2, Sumatera Bagian Tengah, posisi tertinggi ditawar PT Berca Hardaya Perkasa sebesar Rp5.125.000.000
Zona 3, Sumatera Bagian Selatan, PT Berca, Rp5.125.000.000. Zona 4, Banten Jabodetabek, PT First Media, Rp 121.201.000.000. Sementara zona 5, Jawa Barat, Konsorsium PT Comtronic System dan PT Adiwarta Perdana, Rp25.218.000.000
Zona 6, Jawa Tengah, PT Telkom, Rp18.654.000.000, dan Zona 7, Jawa Timur, Konsorsium PT Comtronic System dan PT Adiwarta Perdana, Rp31.518.000.000. Sedangkan sona 8, Bali dan NTB, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp5.100.000.000
Zona 9, Papua, PT Telkom, 775.000.000. Zona 10, Maluku dan Maluku Utara, PT Telkom, Rp533.000.000. Zona 11, Sulawesi Selatan, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp5.299.000.000. Zona 12, Sulawesi Bagian Utara, PT Telkom, Rp1.177.000.000
Zona 13, Kalimantan Barat, PT Berca Hardaya Perkasa , Rp6.991.000.000. Kemudian zona 14, Kalimantan Bagian Timur, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp3.490.000.000. Terakhir zona 15, Kepulauan Riau, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp4.000.000.000.
Posted by
Mr.gucci
Internet Murah WIMAX
Pemerintah Indonesia telah menetapkan pemenang delapan lelang akses pita lebar tanpa kabel atau Broadband Wireless Access dengan teknologi WIMAX (Worlwide Interoperability for Microwave Access). Ini berita halaman 1 dari Koran Kontan (Kompas Gramedia) tertanggal 1 Agustus 2009.
Wimax adalah salah satu teknologi BWA yang menyediakan jaringan data dan internet kecepatan tinggi tanpa kabel dengan cakupan area yang luas. Teoritisnya bisa mencapai 12-15 km dari posisi pemancar. Wimax lebih luas dari WiFi (Wireless Fidelity). Pada Wimax, tidak diperlukan tower/menara antena tidak perlu banyak karena cakupannya yang luas, sehingga mengurangi biaya investasi.
Para pemenang lisensi Broadband Wireless Access (BWA) berjanji memberikan tarif internet murah ke masyarakat meskipun dalam pembelian frekuensi harus mengeluarkan dana yang cukup besar.
"Jika dilihat dari jumlah pengguna internet yang ada sekarang, tentu hitung-hitungan harga yang dipasang bisa saja tinggi. Tetapi kami yakin jumlah pengguna internet akan bertambah,dan itu membuat harga yang ditawarkan ketika teknologi Wimax dikomersialkan lebih murah ketimbang sekarang," kata Direktur Utama First Media Dicky Moechtar usai acara penyerahan keputusan penetapan pemenang seleksi BWA 2,3 GHz, di Gedung Menkominfo, Jakarta, Jumat (31/7/2009).
First Media merupakan satu dari delapan pemenang lisensi BWA. Pemenang lainnya adalah Telkom, Indosat Mega Media, Internux, Jasnita Telekomindo, Berca Hardayaperkasa, Konsorsium Wimax Indonesia, dan Konsorsium Comtronics System dan PT Adiwarta Perdania.
Dikatakan Dicky, permintaan akses internet di Indonesia lumayan tinggi, hal itu terbukti dari eksponensialnya jumlah pengguna selama 3 tahun belakangan ini.
Kendati demikian, Dicky enggan mengungkapkan biaya investasi yang dikeluarkan perseroan karena semuanya masih dalam hitungan. "Yang jelas diluar belanja modal First Media tahun ini sebesar USD20 juta dollar," katanya.
First Media yang memenangi zona Jabotabek dan Banten rencananya akan mengeluarkan dana sekitar 121 milar rupiah per tahun untuk menyewa frekuensi dan biaya hak penyelenggaraan (BHP).
Yup semoga pemerintah bisa memberikan layanan internet murah meriah cepet dan berkualitas.
Semoga seperti di Singapore yang bisa menyediakan layanan internet gratis bagi masyarakatnya.
Wimax adalah salah satu teknologi BWA yang menyediakan jaringan data dan internet kecepatan tinggi tanpa kabel dengan cakupan area yang luas. Teoritisnya bisa mencapai 12-15 km dari posisi pemancar. Wimax lebih luas dari WiFi (Wireless Fidelity). Pada Wimax, tidak diperlukan tower/menara antena tidak perlu banyak karena cakupannya yang luas, sehingga mengurangi biaya investasi.
Para pemenang lisensi Broadband Wireless Access (BWA) berjanji memberikan tarif internet murah ke masyarakat meskipun dalam pembelian frekuensi harus mengeluarkan dana yang cukup besar.
"Jika dilihat dari jumlah pengguna internet yang ada sekarang, tentu hitung-hitungan harga yang dipasang bisa saja tinggi. Tetapi kami yakin jumlah pengguna internet akan bertambah,dan itu membuat harga yang ditawarkan ketika teknologi Wimax dikomersialkan lebih murah ketimbang sekarang," kata Direktur Utama First Media Dicky Moechtar usai acara penyerahan keputusan penetapan pemenang seleksi BWA 2,3 GHz, di Gedung Menkominfo, Jakarta, Jumat (31/7/2009).
First Media merupakan satu dari delapan pemenang lisensi BWA. Pemenang lainnya adalah Telkom, Indosat Mega Media, Internux, Jasnita Telekomindo, Berca Hardayaperkasa, Konsorsium Wimax Indonesia, dan Konsorsium Comtronics System dan PT Adiwarta Perdania.
Dikatakan Dicky, permintaan akses internet di Indonesia lumayan tinggi, hal itu terbukti dari eksponensialnya jumlah pengguna selama 3 tahun belakangan ini.
Kendati demikian, Dicky enggan mengungkapkan biaya investasi yang dikeluarkan perseroan karena semuanya masih dalam hitungan. "Yang jelas diluar belanja modal First Media tahun ini sebesar USD20 juta dollar," katanya.
First Media yang memenangi zona Jabotabek dan Banten rencananya akan mengeluarkan dana sekitar 121 milar rupiah per tahun untuk menyewa frekuensi dan biaya hak penyelenggaraan (BHP).
Yup semoga pemerintah bisa memberikan layanan internet murah meriah cepet dan berkualitas.
Semoga seperti di Singapore yang bisa menyediakan layanan internet gratis bagi masyarakatnya.
Posted by
Mr.gucci
Indosat terancam tak bisa ikut lelang
Indosat terancam tak bisa ikut lelang
JAKARTA: Harga dasar penawaran (reserved price) lelang broadband wireless access (BWA) atau WiMax pita lebar nirkabel 2,3Ghz pada 15 zona ditetapkan Rp32 miliar dengan angka penawaran berbeda pada setiap zona.
Sumber Bisnis di kalangan pemerintahan mengatakan total harga penawaran pada lelang WiMax besarnya seperlima dari harga 3G beberapa waktu lalu sebesar Rp160 miliar. Harga dasar penawaran pada zona termurah hanya seperlima belas dari harga 3G, atau sekitar Rp160 juta per blok per zona.
"Harga penawaran WiMax memang jauh dibandingkan dengan harga yang ditawarkan pemerintah untuk layanan 3G. Harga dasar penawaran ini yang diajukan dan masih dibahas oleh Depkominfo dengan Departemen Keuangan," ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.
Iwan Krisnadi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengatakan harga dasar penawaran lelang WiMax memang ditetapkan lebih kecil dibandingkan dengan harga layanan 3G.
"Pada lelang ini pemerintah ingin mengembangkan industri, bukan hanya sekadar mencari uang," ujarnya.
Juru bicara lelang WiMax ini menambahkan harga setiap zona sengaja dibedakan agar seluruh pengusaha penyelenggara jasa dan jaringan bisa ikut serta. Harga paling rendah untuk satu blok dalam sebuah zona diyakini sanggup diambil oleh penyedia jasa kecil.
Lelang ini sudah melalui tahap rapat penjelasan (anwijzing) pada Jumat pekan lalu yang diikuti oleh 73 peserta pra kualifikasi yang telah mengambil dokumen seleksi. Semula pemerintah berencana mengumumkan harga dasar penawaran pada saat rapat, tetapi hal tersebut ditunda.
Rapat pekan lalu hanya membahas mekanisme dan sistem lelang. Harga dasar penawaran baru diumumkan pada anwijzing kedua yang rencananya digelar pekan ini karena hingga saat ini Depkeu belum menyetujui seluruh harga yang diajukan Depkominfo.
Indosat terancam
Kepemilikan asing menjadi salah satu topik yang paling ramai dibahas pada rapat pekan lalu. PT Indosat Tbk diperkirakan tidak bisa mengikuti lelang sendiri, harus bergabung dalam konsorsium atau memanfaatkan anak perusahaan yang dimiliki.
Iwan mengatakan pemerintah tetap berpegang pada aturan kepemilikan asing tidak boleh lebih dari 49% pada lelang penyelenggaraan jaringan tetap lokal (Jartap) berbasis packet switched.
"Masih ada pertanyaan yang belum terjawab mengenai perhitungan kepemilikan asing pada perusahaan terbuka. Pemerintah akan melakukan pembahasan terlebih dahulu agar tidak menjadi grey area," ujarnya.
Tulus Rahardjo, Ketua Panitia Lelang WiMax Depkominfo, mengatakan harga dasar penawaran dan pertanyaan yang belum terjawab pada rapat pekan lalu akan diumumkan serta diselesaikan pada rapat pekan ini.
"Harga dasar penawaran memang harus komprehensif dibahas agar tidak terjadi kesalahan. Kami masih membahas dengan Depkeu. Mekanisme banyak dibahas saat rapat tadi, salah satunya mengenai harga dasar penawaran pada tiga ronde lelang," ujarnya.
JAKARTA: Harga dasar penawaran (reserved price) lelang broadband wireless access (BWA) atau WiMax pita lebar nirkabel 2,3Ghz pada 15 zona ditetapkan Rp32 miliar dengan angka penawaran berbeda pada setiap zona.
Sumber Bisnis di kalangan pemerintahan mengatakan total harga penawaran pada lelang WiMax besarnya seperlima dari harga 3G beberapa waktu lalu sebesar Rp160 miliar. Harga dasar penawaran pada zona termurah hanya seperlima belas dari harga 3G, atau sekitar Rp160 juta per blok per zona.
"Harga penawaran WiMax memang jauh dibandingkan dengan harga yang ditawarkan pemerintah untuk layanan 3G. Harga dasar penawaran ini yang diajukan dan masih dibahas oleh Depkominfo dengan Departemen Keuangan," ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.
Iwan Krisnadi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengatakan harga dasar penawaran lelang WiMax memang ditetapkan lebih kecil dibandingkan dengan harga layanan 3G.
"Pada lelang ini pemerintah ingin mengembangkan industri, bukan hanya sekadar mencari uang," ujarnya.
Juru bicara lelang WiMax ini menambahkan harga setiap zona sengaja dibedakan agar seluruh pengusaha penyelenggara jasa dan jaringan bisa ikut serta. Harga paling rendah untuk satu blok dalam sebuah zona diyakini sanggup diambil oleh penyedia jasa kecil.
Lelang ini sudah melalui tahap rapat penjelasan (anwijzing) pada Jumat pekan lalu yang diikuti oleh 73 peserta pra kualifikasi yang telah mengambil dokumen seleksi. Semula pemerintah berencana mengumumkan harga dasar penawaran pada saat rapat, tetapi hal tersebut ditunda.
Rapat pekan lalu hanya membahas mekanisme dan sistem lelang. Harga dasar penawaran baru diumumkan pada anwijzing kedua yang rencananya digelar pekan ini karena hingga saat ini Depkeu belum menyetujui seluruh harga yang diajukan Depkominfo.
Indosat terancam
Kepemilikan asing menjadi salah satu topik yang paling ramai dibahas pada rapat pekan lalu. PT Indosat Tbk diperkirakan tidak bisa mengikuti lelang sendiri, harus bergabung dalam konsorsium atau memanfaatkan anak perusahaan yang dimiliki.
Iwan mengatakan pemerintah tetap berpegang pada aturan kepemilikan asing tidak boleh lebih dari 49% pada lelang penyelenggaraan jaringan tetap lokal (Jartap) berbasis packet switched.
"Masih ada pertanyaan yang belum terjawab mengenai perhitungan kepemilikan asing pada perusahaan terbuka. Pemerintah akan melakukan pembahasan terlebih dahulu agar tidak menjadi grey area," ujarnya.
Tulus Rahardjo, Ketua Panitia Lelang WiMax Depkominfo, mengatakan harga dasar penawaran dan pertanyaan yang belum terjawab pada rapat pekan lalu akan diumumkan serta diselesaikan pada rapat pekan ini.
"Harga dasar penawaran memang harus komprehensif dibahas agar tidak terjadi kesalahan. Kami masih membahas dengan Depkeu. Mekanisme banyak dibahas saat rapat tadi, salah satunya mengenai harga dasar penawaran pada tiga ronde lelang," ujarnya.
Posted by
Mr.gucci
First Media Menangi Tender Nirkabel Pita Lebar

Jakarta (ANTARA News) - PT First Media Tbk (KBLV) telah memenangkan tender sebagai penyelenggara jaringan nirkabel pita lebar ("Broadband Wireless Access"/BWA) sebagaimana ditetapkan melalui Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 237 tanggal 27 Juli 2009.
Presiden Komisaris KBLV, Peter F Gontha, dalam siaran pers di Jakarta Selasa mengatakan, First Media secara resmi telah ditunjuk sebagai salah satu pemenang untuk menyelenggarakan jaringan tetap lokal berbasis Packet Switched yang memanfaatkan frekuensi radio 2,3 Ghz.
Dia mengatakan, dengan memenangkan tender Wireless Broadband untuk Jabodetabek, Banten, dan Sumatera Utara, diharapkan First Media dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam melayani kebutuhan permintaan akan jasa pelayanan internet berkecepatan tinggi.
Peter mengatakan, dengan peningkatan permintaan yang sangat pesat akan jasa internet di Indonesia belakangan ini harus diikuti dengan penyediaan "bandwidth" memadai yang ditunjang dengan teknologi dan kecepatan yang tinggi serta kemudahan dalam akses dan jangkauan yang luas.
"Oleh karenanya pemerintah Indonesia mencanangkan menggelar jasa pelayanan internet yang berbasis frekuensi, seperti WiMax di tahun 2009 ini,"ujarnya.
WiMax atau Worldwide Interoperability for Microwave Access adalah merupakan teknologi akses nirkabel pita lebar (atau yang lebih dikenal dengan istilah Broadband Wireless Access/BWA) yang mempunyai kecepatan akses yang tinggi dan jangkuan luas.
(*)
COPYRIGHT © 2009
Posted by
Mr.gucci
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)