HOT NEWS
Showing posts with label harga wimax. Show all posts
Showing posts with label harga wimax. Show all posts
Gratis! Akses Internet Lewat Wimax Lokal
Bagaimana rasanya mengakses internet dengan koneksi broadband nirkabel supercepat Wimax secara gratis? Coba saja sendiri kedahsyatan mulai Awal tahun nanti nanti.
Read more...
Posted by
Mr.gucci
About WiMAX Roaming
What is WiMAX Roaming?
The WiMAX Roaming White Paper provides an overview of business models and technical aspects of roaming. Roaming enables customers to automatically access their wireless services when travelling outside the geographical coverage area of their home network. This includes internet, e-mail, voice, video and other services available on the home network. Roaming provides the ability for you to access your wireless services by using the network of an operator that is not your home network operator. This is made possible by your home network operator agreeing with other operators to allow you to use your wireless services on their networks.
Benefits of WiMAX Roaming
Roaming provides significant advantages to customers and network operators. Roaming can dramatically expand the coverage area available to customers and can enable an operator to expand its footprint.
Types of Roaming
Roaming can either be national or international. National Roaming occurs when the visited network is in the same country as the home network. International or Global Roaming occurs when the visited network is in a different country than the home network. Roaming can also occur between networks using differing technologies, such as WiMAX and Wi-Fi or WiMAX and 3G. This is known as Inter-standard roaming.
Connecting Operator Networks for Roaming For roaming to occur, the networks of two operators must be connected to provide access to services and to enable the process of sharing usage information and to facilitate billing and financial settlement between operators. This can be achieved by operators establishing direct connections between their networks or by connecting their networks through a third party roaming exchange provider (WRX). One advantage of connecting through a third party provider is that this can enable an operator to connect with many other operators through a single connection. This can allow an operator to expand its footprint quickly.
Roaming Agreements
Roaming agreements set forth the terms and conditions by which operators agree to provide each other’s subscribers with access to their networks. An agreement details which services are to be provided and the rates that the operators will pay for using the other’s network. The agreement also includes information relating to QoS, customer care and billing and financial settlement.
The WiMAX Roaming White Paper provides an overview of business models and technical aspects of roaming. Roaming enables customers to automatically access their wireless services when travelling outside the geographical coverage area of their home network. This includes internet, e-mail, voice, video and other services available on the home network. Roaming provides the ability for you to access your wireless services by using the network of an operator that is not your home network operator. This is made possible by your home network operator agreeing with other operators to allow you to use your wireless services on their networks.
Benefits of WiMAX Roaming
Roaming provides significant advantages to customers and network operators. Roaming can dramatically expand the coverage area available to customers and can enable an operator to expand its footprint.
Types of Roaming
Roaming can either be national or international. National Roaming occurs when the visited network is in the same country as the home network. International or Global Roaming occurs when the visited network is in a different country than the home network. Roaming can also occur between networks using differing technologies, such as WiMAX and Wi-Fi or WiMAX and 3G. This is known as Inter-standard roaming.
Connecting Operator Networks for Roaming For roaming to occur, the networks of two operators must be connected to provide access to services and to enable the process of sharing usage information and to facilitate billing and financial settlement between operators. This can be achieved by operators establishing direct connections between their networks or by connecting their networks through a third party roaming exchange provider (WRX). One advantage of connecting through a third party provider is that this can enable an operator to connect with many other operators through a single connection. This can allow an operator to expand its footprint quickly.
Roaming Agreements
Roaming agreements set forth the terms and conditions by which operators agree to provide each other’s subscribers with access to their networks. An agreement details which services are to be provided and the rates that the operators will pay for using the other’s network. The agreement also includes information relating to QoS, customer care and billing and financial settlement.
Posted by
Mr.gucci
Wimax vs 3G
Bro, Wimax itu udah merupakan technology wireless paling maju sekarang ini, dengan menggunakan standar 802.16. Wimax bisa digunakan untuk transmisi data sampai dengan 75Mbps sampai dengan jarak 15km.
Otomatis jika dilihat dari kemampuannya, Wimax bisa jadi 3G / HSDPA killer dimana untuk sisi operator WImax akan lebih murah investasinya dibanding 3G dan untuk sisi pelanggan, akses akan lebih cepat.
Masalahnya, 3G/HSDPA bisa diakses via telepon selular , nah untuk wimax, sampai saat ini belum ada hp selular yg mendukung WImax mengingat wimax memiliki range frekuensi operasi yang berbeda dengan GSM/UMTS yaitu di 2.3 , 3.3 , 3.5 Ghz ke atas. So engga ada hp yg menggunakan frekuensi tsb.
Kehadiran jaringan WiMax (worldwide interoperability for microwave access) diperkirakan belum mendorong Internet murah, karena operator harus memperhitungkan mahalnya lisensi yang mereka bayar.
Mas Wigrantoro Roes Setiadi, Ketua Masyarakat Telematika Indonesia ( Mastel), mengingatkan perolehan lisensi WiMax dengan biaya yang mahal tidak akan membuat Internet menjadi murah.
Penyelenggara jasa Internet (PJI) yang bermodal terbatas, katanya, mau tidak mau harus menyewa jaringan WiMax ke pemilik lisensi jika ini menggunakan jaringan WiMax untuk askes Internet.
"Tentunya, pemilik jaringan WiMax akan menetapkan biaya sewa yang mahal untuk menutup biaya lisensi tersebut," ujarnya kepada Bisnis pekan lalu.
Dia menilai peluang para PJI bermodal kecil untuk mengikuti lelang WiMax sangat berat, karena mereka dituntut memiliki struktur permodalan yang kuat.
"Ini memang keinginan pemerintah yang meminta agar PJI yang sumber dayanya terbatas mengalah dulu dan bisa bekerja sama memakai jaringan pemenang tender," tuturnya.
Wigrantoro menilai kinerja pemegang lisensi WiMax kurang optimal bila pemerintah tidak memberikan alokasi nomor yang memungkinkan panggilan untuk pelanggan.
"Jika pemerintah mengubah regulasi penomoran, peta telekomunikasi akan berubah dan ini positif bagi operator WiMax," jelasnya.
Menurut dia, siapa pun pemenang lisensi dari 23 peserta yang maju prakualifikasi tender WiMax 2,3 GHz, mereka harus serius menggarap jaringan dan layanan.
Sebelumnya, praktisi broadband wireless access (BWA) IM2 Hermanudin berpendapat harga dasar tender yang sangat tinggi dan bisa berkali lipat apabila lelang sudah digelar menyebabkan penyelenggara WiMax juga harus membangun backbone antarkota, backhaul dalam kota, dan menara yang investasinya cukup besar.
"Penyelenggara WiMax juga wajib memenuhi komitmen pembangunan jaringan hingga ke ibu kota kecamatan di wilayah zona yang dimenanginya," ujarnya.
Menurut dia, jika permodalan peserta kecil, Internet murah akan sulit direalisasikan bahkan dikhawatirkan pemain malah menjadi broker frekuensi.
23 Peserta tender
Sebanyak 23 perusahaan termasuk konsorsium mengajukan penawaran harga pada lelang pita spektrum frekuensi radio 2,3 GHz untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel WiMax.
Gatot S. Dewa Broto, Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo, menuturkan penurunan calon peserta tersebut lazim seperti pada proses seleksi tender telekomunikasi lainnya. "Sejauh ini, kami memang tidak menentukan target dan kami kira tender ini cukup ketat," ujarnya kepada Bisnis.
Menurut Gatot, 3G, berkurangnya peserta karena di antara calon peserta saling mengikatkan entitas keikutsertaannya dalam bentuk konsorsium seperti ditegaskan dalam penjelasan tender.
Setiap anggota konsorsium WiMax harus merupakan penyelenggara jaringan telekomunikasi dan atau penyelenggara jasa telekomunikasi yang sudah mendapatkan izin penyelenggaraan yang dimungkinkan sesuai dengan Keputusan Menkominfo No.114/2009.
Iwan Krisnadi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonedia (BRTI), berpendapat jumlah peserta menyusut, karena banyak perusahaan yang bergabung menjadi konsorsium. Ada tiga konsorsium yang mengembalikan dokumen seleksi.
"Besaran bid bond yang diajukan para calon peserta sendiri belum diketahui karena dokumen baru di buka Senin [hari ini]," ujarnya kepada Bisnis, pekan lalu.
Sampai Jumat pekan lalu, ke-23 calon yang terdiri dari 5 konsorsium dan 18 perusahaan lainnya telah menyerahkan kelengkapan dokumen persyaratan yang akan dibuka pada 22 Juni 2009 di Ditjen Postel.
Sebelumnya pemerintah menetapkan harga dasar penawaran (reserved price) pita spektrum frekuensi radio 2,3 GHz untuk lebar pita 15 MHz WiMax bervariasi sesuai dengan zona yang menjadi objek seleksi. Total harga dasar penawaran WiMax untuk 15 zona mencapai Rp52,35 miliar atau hanya sepertiga dari harga dasar penawaran tambahan frekuensi 3G.
Otomatis jika dilihat dari kemampuannya, Wimax bisa jadi 3G / HSDPA killer dimana untuk sisi operator WImax akan lebih murah investasinya dibanding 3G dan untuk sisi pelanggan, akses akan lebih cepat.
Masalahnya, 3G/HSDPA bisa diakses via telepon selular , nah untuk wimax, sampai saat ini belum ada hp selular yg mendukung WImax mengingat wimax memiliki range frekuensi operasi yang berbeda dengan GSM/UMTS yaitu di 2.3 , 3.3 , 3.5 Ghz ke atas. So engga ada hp yg menggunakan frekuensi tsb.
Kehadiran jaringan WiMax (worldwide interoperability for microwave access) diperkirakan belum mendorong Internet murah, karena operator harus memperhitungkan mahalnya lisensi yang mereka bayar.
Mas Wigrantoro Roes Setiadi, Ketua Masyarakat Telematika Indonesia ( Mastel), mengingatkan perolehan lisensi WiMax dengan biaya yang mahal tidak akan membuat Internet menjadi murah.
Penyelenggara jasa Internet (PJI) yang bermodal terbatas, katanya, mau tidak mau harus menyewa jaringan WiMax ke pemilik lisensi jika ini menggunakan jaringan WiMax untuk askes Internet.
"Tentunya, pemilik jaringan WiMax akan menetapkan biaya sewa yang mahal untuk menutup biaya lisensi tersebut," ujarnya kepada Bisnis pekan lalu.
Dia menilai peluang para PJI bermodal kecil untuk mengikuti lelang WiMax sangat berat, karena mereka dituntut memiliki struktur permodalan yang kuat.
"Ini memang keinginan pemerintah yang meminta agar PJI yang sumber dayanya terbatas mengalah dulu dan bisa bekerja sama memakai jaringan pemenang tender," tuturnya.
Wigrantoro menilai kinerja pemegang lisensi WiMax kurang optimal bila pemerintah tidak memberikan alokasi nomor yang memungkinkan panggilan untuk pelanggan.
"Jika pemerintah mengubah regulasi penomoran, peta telekomunikasi akan berubah dan ini positif bagi operator WiMax," jelasnya.
Menurut dia, siapa pun pemenang lisensi dari 23 peserta yang maju prakualifikasi tender WiMax 2,3 GHz, mereka harus serius menggarap jaringan dan layanan.
Sebelumnya, praktisi broadband wireless access (BWA) IM2 Hermanudin berpendapat harga dasar tender yang sangat tinggi dan bisa berkali lipat apabila lelang sudah digelar menyebabkan penyelenggara WiMax juga harus membangun backbone antarkota, backhaul dalam kota, dan menara yang investasinya cukup besar.
"Penyelenggara WiMax juga wajib memenuhi komitmen pembangunan jaringan hingga ke ibu kota kecamatan di wilayah zona yang dimenanginya," ujarnya.
Menurut dia, jika permodalan peserta kecil, Internet murah akan sulit direalisasikan bahkan dikhawatirkan pemain malah menjadi broker frekuensi.
23 Peserta tender
Sebanyak 23 perusahaan termasuk konsorsium mengajukan penawaran harga pada lelang pita spektrum frekuensi radio 2,3 GHz untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel WiMax.
Gatot S. Dewa Broto, Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo, menuturkan penurunan calon peserta tersebut lazim seperti pada proses seleksi tender telekomunikasi lainnya. "Sejauh ini, kami memang tidak menentukan target dan kami kira tender ini cukup ketat," ujarnya kepada Bisnis.
Menurut Gatot, 3G, berkurangnya peserta karena di antara calon peserta saling mengikatkan entitas keikutsertaannya dalam bentuk konsorsium seperti ditegaskan dalam penjelasan tender.
Setiap anggota konsorsium WiMax harus merupakan penyelenggara jaringan telekomunikasi dan atau penyelenggara jasa telekomunikasi yang sudah mendapatkan izin penyelenggaraan yang dimungkinkan sesuai dengan Keputusan Menkominfo No.114/2009.
Iwan Krisnadi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonedia (BRTI), berpendapat jumlah peserta menyusut, karena banyak perusahaan yang bergabung menjadi konsorsium. Ada tiga konsorsium yang mengembalikan dokumen seleksi.
"Besaran bid bond yang diajukan para calon peserta sendiri belum diketahui karena dokumen baru di buka Senin [hari ini]," ujarnya kepada Bisnis, pekan lalu.
Sampai Jumat pekan lalu, ke-23 calon yang terdiri dari 5 konsorsium dan 18 perusahaan lainnya telah menyerahkan kelengkapan dokumen persyaratan yang akan dibuka pada 22 Juni 2009 di Ditjen Postel.
Sebelumnya pemerintah menetapkan harga dasar penawaran (reserved price) pita spektrum frekuensi radio 2,3 GHz untuk lebar pita 15 MHz WiMax bervariasi sesuai dengan zona yang menjadi objek seleksi. Total harga dasar penawaran WiMax untuk 15 zona mencapai Rp52,35 miliar atau hanya sepertiga dari harga dasar penawaran tambahan frekuensi 3G.
Posted by
Mr.gucci
Berca Kuasai Zona BWA Terbanyak
Jakarta - Pemerintah telah menetapkan pemenang yang mengajukan posisi tawar tertinggi untuk 15 zona broadband wireless access (BWA) yang hari ini selesai dilelang. Dari 15 zona tersebut, tujuh zona di antaranya dimenangkan PT Berca Hardaya Perkasa.
Menkominfo Mohammad Nuh memaparkan demikian di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (16/7/2009). Berikut nama perusahaan di 15 zona dengan posisi tawar paling tinggi:
Zona 1, Sumatera Utara, posisi tertinggi ditawar PT First Media Tbk senilai Rp7.201.000.000. Zona 2, Sumatera Bagian Tengah, posisi tertinggi ditawar PT Berca Hardaya Perkasa sebesar Rp5.125.000.000
Zona 3, Sumatera Bagian Selatan, PT Berca, Rp5.125.000.000. Zona 4, Banten Jabodetabek, PT First Media, Rp 121.201.000.000. Sementara zona 5, Jawa Barat, Konsorsium PT Comtronic System dan PT Adiwarta Perdana, Rp25.218.000.000
Zona 6, Jawa Tengah, PT Telkom, Rp18.654.000.000, dan Zona 7, Jawa Timur, Konsorsium PT Comtronic System dan PT Adiwarta Perdana, Rp31.518.000.000. Sedangkan sona 8, Bali dan NTB, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp5.100.000.000
Zona 9, Papua, PT Telkom, 775.000.000. Zona 10, Maluku dan Maluku Utara, PT Telkom, Rp533.000.000. Zona 11, Sulawesi Selatan, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp5.299.000.000. Zona 12, Sulawesi Bagian Utara, PT Telkom, Rp1.177.000.000
Zona 13, Kalimantan Barat, PT Berca Hardaya Perkasa , Rp6.991.000.000. Kemudian zona 14, Kalimantan Bagian Timur, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp3.490.000.000. Terakhir zona 15, Kepulauan Riau, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp4.000.000.000.
Menkominfo Mohammad Nuh memaparkan demikian di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (16/7/2009). Berikut nama perusahaan di 15 zona dengan posisi tawar paling tinggi:
Zona 1, Sumatera Utara, posisi tertinggi ditawar PT First Media Tbk senilai Rp7.201.000.000. Zona 2, Sumatera Bagian Tengah, posisi tertinggi ditawar PT Berca Hardaya Perkasa sebesar Rp5.125.000.000
Zona 3, Sumatera Bagian Selatan, PT Berca, Rp5.125.000.000. Zona 4, Banten Jabodetabek, PT First Media, Rp 121.201.000.000. Sementara zona 5, Jawa Barat, Konsorsium PT Comtronic System dan PT Adiwarta Perdana, Rp25.218.000.000
Zona 6, Jawa Tengah, PT Telkom, Rp18.654.000.000, dan Zona 7, Jawa Timur, Konsorsium PT Comtronic System dan PT Adiwarta Perdana, Rp31.518.000.000. Sedangkan sona 8, Bali dan NTB, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp5.100.000.000
Zona 9, Papua, PT Telkom, 775.000.000. Zona 10, Maluku dan Maluku Utara, PT Telkom, Rp533.000.000. Zona 11, Sulawesi Selatan, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp5.299.000.000. Zona 12, Sulawesi Bagian Utara, PT Telkom, Rp1.177.000.000
Zona 13, Kalimantan Barat, PT Berca Hardaya Perkasa , Rp6.991.000.000. Kemudian zona 14, Kalimantan Bagian Timur, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp3.490.000.000. Terakhir zona 15, Kepulauan Riau, PT Berca Hardaya Perkasa, Rp4.000.000.000.
Posted by
Mr.gucci
Internet Murah WIMAX
Pemerintah Indonesia telah menetapkan pemenang delapan lelang akses pita lebar tanpa kabel atau Broadband Wireless Access dengan teknologi WIMAX (Worlwide Interoperability for Microwave Access). Ini berita halaman 1 dari Koran Kontan (Kompas Gramedia) tertanggal 1 Agustus 2009.
Wimax adalah salah satu teknologi BWA yang menyediakan jaringan data dan internet kecepatan tinggi tanpa kabel dengan cakupan area yang luas. Teoritisnya bisa mencapai 12-15 km dari posisi pemancar. Wimax lebih luas dari WiFi (Wireless Fidelity). Pada Wimax, tidak diperlukan tower/menara antena tidak perlu banyak karena cakupannya yang luas, sehingga mengurangi biaya investasi.
Para pemenang lisensi Broadband Wireless Access (BWA) berjanji memberikan tarif internet murah ke masyarakat meskipun dalam pembelian frekuensi harus mengeluarkan dana yang cukup besar.
"Jika dilihat dari jumlah pengguna internet yang ada sekarang, tentu hitung-hitungan harga yang dipasang bisa saja tinggi. Tetapi kami yakin jumlah pengguna internet akan bertambah,dan itu membuat harga yang ditawarkan ketika teknologi Wimax dikomersialkan lebih murah ketimbang sekarang," kata Direktur Utama First Media Dicky Moechtar usai acara penyerahan keputusan penetapan pemenang seleksi BWA 2,3 GHz, di Gedung Menkominfo, Jakarta, Jumat (31/7/2009).
First Media merupakan satu dari delapan pemenang lisensi BWA. Pemenang lainnya adalah Telkom, Indosat Mega Media, Internux, Jasnita Telekomindo, Berca Hardayaperkasa, Konsorsium Wimax Indonesia, dan Konsorsium Comtronics System dan PT Adiwarta Perdania.
Dikatakan Dicky, permintaan akses internet di Indonesia lumayan tinggi, hal itu terbukti dari eksponensialnya jumlah pengguna selama 3 tahun belakangan ini.
Kendati demikian, Dicky enggan mengungkapkan biaya investasi yang dikeluarkan perseroan karena semuanya masih dalam hitungan. "Yang jelas diluar belanja modal First Media tahun ini sebesar USD20 juta dollar," katanya.
First Media yang memenangi zona Jabotabek dan Banten rencananya akan mengeluarkan dana sekitar 121 milar rupiah per tahun untuk menyewa frekuensi dan biaya hak penyelenggaraan (BHP).
Yup semoga pemerintah bisa memberikan layanan internet murah meriah cepet dan berkualitas.
Semoga seperti di Singapore yang bisa menyediakan layanan internet gratis bagi masyarakatnya.
Wimax adalah salah satu teknologi BWA yang menyediakan jaringan data dan internet kecepatan tinggi tanpa kabel dengan cakupan area yang luas. Teoritisnya bisa mencapai 12-15 km dari posisi pemancar. Wimax lebih luas dari WiFi (Wireless Fidelity). Pada Wimax, tidak diperlukan tower/menara antena tidak perlu banyak karena cakupannya yang luas, sehingga mengurangi biaya investasi.
Para pemenang lisensi Broadband Wireless Access (BWA) berjanji memberikan tarif internet murah ke masyarakat meskipun dalam pembelian frekuensi harus mengeluarkan dana yang cukup besar.
"Jika dilihat dari jumlah pengguna internet yang ada sekarang, tentu hitung-hitungan harga yang dipasang bisa saja tinggi. Tetapi kami yakin jumlah pengguna internet akan bertambah,dan itu membuat harga yang ditawarkan ketika teknologi Wimax dikomersialkan lebih murah ketimbang sekarang," kata Direktur Utama First Media Dicky Moechtar usai acara penyerahan keputusan penetapan pemenang seleksi BWA 2,3 GHz, di Gedung Menkominfo, Jakarta, Jumat (31/7/2009).
First Media merupakan satu dari delapan pemenang lisensi BWA. Pemenang lainnya adalah Telkom, Indosat Mega Media, Internux, Jasnita Telekomindo, Berca Hardayaperkasa, Konsorsium Wimax Indonesia, dan Konsorsium Comtronics System dan PT Adiwarta Perdania.
Dikatakan Dicky, permintaan akses internet di Indonesia lumayan tinggi, hal itu terbukti dari eksponensialnya jumlah pengguna selama 3 tahun belakangan ini.
Kendati demikian, Dicky enggan mengungkapkan biaya investasi yang dikeluarkan perseroan karena semuanya masih dalam hitungan. "Yang jelas diluar belanja modal First Media tahun ini sebesar USD20 juta dollar," katanya.
First Media yang memenangi zona Jabotabek dan Banten rencananya akan mengeluarkan dana sekitar 121 milar rupiah per tahun untuk menyewa frekuensi dan biaya hak penyelenggaraan (BHP).
Yup semoga pemerintah bisa memberikan layanan internet murah meriah cepet dan berkualitas.
Semoga seperti di Singapore yang bisa menyediakan layanan internet gratis bagi masyarakatnya.
Posted by
Mr.gucci
Indosat terancam tak bisa ikut lelang
Indosat terancam tak bisa ikut lelang
JAKARTA: Harga dasar penawaran (reserved price) lelang broadband wireless access (BWA) atau WiMax pita lebar nirkabel 2,3Ghz pada 15 zona ditetapkan Rp32 miliar dengan angka penawaran berbeda pada setiap zona.
Sumber Bisnis di kalangan pemerintahan mengatakan total harga penawaran pada lelang WiMax besarnya seperlima dari harga 3G beberapa waktu lalu sebesar Rp160 miliar. Harga dasar penawaran pada zona termurah hanya seperlima belas dari harga 3G, atau sekitar Rp160 juta per blok per zona.
"Harga penawaran WiMax memang jauh dibandingkan dengan harga yang ditawarkan pemerintah untuk layanan 3G. Harga dasar penawaran ini yang diajukan dan masih dibahas oleh Depkominfo dengan Departemen Keuangan," ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.
Iwan Krisnadi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengatakan harga dasar penawaran lelang WiMax memang ditetapkan lebih kecil dibandingkan dengan harga layanan 3G.
"Pada lelang ini pemerintah ingin mengembangkan industri, bukan hanya sekadar mencari uang," ujarnya.
Juru bicara lelang WiMax ini menambahkan harga setiap zona sengaja dibedakan agar seluruh pengusaha penyelenggara jasa dan jaringan bisa ikut serta. Harga paling rendah untuk satu blok dalam sebuah zona diyakini sanggup diambil oleh penyedia jasa kecil.
Lelang ini sudah melalui tahap rapat penjelasan (anwijzing) pada Jumat pekan lalu yang diikuti oleh 73 peserta pra kualifikasi yang telah mengambil dokumen seleksi. Semula pemerintah berencana mengumumkan harga dasar penawaran pada saat rapat, tetapi hal tersebut ditunda.
Rapat pekan lalu hanya membahas mekanisme dan sistem lelang. Harga dasar penawaran baru diumumkan pada anwijzing kedua yang rencananya digelar pekan ini karena hingga saat ini Depkeu belum menyetujui seluruh harga yang diajukan Depkominfo.
Indosat terancam
Kepemilikan asing menjadi salah satu topik yang paling ramai dibahas pada rapat pekan lalu. PT Indosat Tbk diperkirakan tidak bisa mengikuti lelang sendiri, harus bergabung dalam konsorsium atau memanfaatkan anak perusahaan yang dimiliki.
Iwan mengatakan pemerintah tetap berpegang pada aturan kepemilikan asing tidak boleh lebih dari 49% pada lelang penyelenggaraan jaringan tetap lokal (Jartap) berbasis packet switched.
"Masih ada pertanyaan yang belum terjawab mengenai perhitungan kepemilikan asing pada perusahaan terbuka. Pemerintah akan melakukan pembahasan terlebih dahulu agar tidak menjadi grey area," ujarnya.
Tulus Rahardjo, Ketua Panitia Lelang WiMax Depkominfo, mengatakan harga dasar penawaran dan pertanyaan yang belum terjawab pada rapat pekan lalu akan diumumkan serta diselesaikan pada rapat pekan ini.
"Harga dasar penawaran memang harus komprehensif dibahas agar tidak terjadi kesalahan. Kami masih membahas dengan Depkeu. Mekanisme banyak dibahas saat rapat tadi, salah satunya mengenai harga dasar penawaran pada tiga ronde lelang," ujarnya.
JAKARTA: Harga dasar penawaran (reserved price) lelang broadband wireless access (BWA) atau WiMax pita lebar nirkabel 2,3Ghz pada 15 zona ditetapkan Rp32 miliar dengan angka penawaran berbeda pada setiap zona.
Sumber Bisnis di kalangan pemerintahan mengatakan total harga penawaran pada lelang WiMax besarnya seperlima dari harga 3G beberapa waktu lalu sebesar Rp160 miliar. Harga dasar penawaran pada zona termurah hanya seperlima belas dari harga 3G, atau sekitar Rp160 juta per blok per zona.
"Harga penawaran WiMax memang jauh dibandingkan dengan harga yang ditawarkan pemerintah untuk layanan 3G. Harga dasar penawaran ini yang diajukan dan masih dibahas oleh Depkominfo dengan Departemen Keuangan," ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.
Iwan Krisnadi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengatakan harga dasar penawaran lelang WiMax memang ditetapkan lebih kecil dibandingkan dengan harga layanan 3G.
"Pada lelang ini pemerintah ingin mengembangkan industri, bukan hanya sekadar mencari uang," ujarnya.
Juru bicara lelang WiMax ini menambahkan harga setiap zona sengaja dibedakan agar seluruh pengusaha penyelenggara jasa dan jaringan bisa ikut serta. Harga paling rendah untuk satu blok dalam sebuah zona diyakini sanggup diambil oleh penyedia jasa kecil.
Lelang ini sudah melalui tahap rapat penjelasan (anwijzing) pada Jumat pekan lalu yang diikuti oleh 73 peserta pra kualifikasi yang telah mengambil dokumen seleksi. Semula pemerintah berencana mengumumkan harga dasar penawaran pada saat rapat, tetapi hal tersebut ditunda.
Rapat pekan lalu hanya membahas mekanisme dan sistem lelang. Harga dasar penawaran baru diumumkan pada anwijzing kedua yang rencananya digelar pekan ini karena hingga saat ini Depkeu belum menyetujui seluruh harga yang diajukan Depkominfo.
Indosat terancam
Kepemilikan asing menjadi salah satu topik yang paling ramai dibahas pada rapat pekan lalu. PT Indosat Tbk diperkirakan tidak bisa mengikuti lelang sendiri, harus bergabung dalam konsorsium atau memanfaatkan anak perusahaan yang dimiliki.
Iwan mengatakan pemerintah tetap berpegang pada aturan kepemilikan asing tidak boleh lebih dari 49% pada lelang penyelenggaraan jaringan tetap lokal (Jartap) berbasis packet switched.
"Masih ada pertanyaan yang belum terjawab mengenai perhitungan kepemilikan asing pada perusahaan terbuka. Pemerintah akan melakukan pembahasan terlebih dahulu agar tidak menjadi grey area," ujarnya.
Tulus Rahardjo, Ketua Panitia Lelang WiMax Depkominfo, mengatakan harga dasar penawaran dan pertanyaan yang belum terjawab pada rapat pekan lalu akan diumumkan serta diselesaikan pada rapat pekan ini.
"Harga dasar penawaran memang harus komprehensif dibahas agar tidak terjadi kesalahan. Kami masih membahas dengan Depkeu. Mekanisme banyak dibahas saat rapat tadi, salah satunya mengenai harga dasar penawaran pada tiga ronde lelang," ujarnya.
Posted by
Mr.gucci
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)